Tangerang, bidiktangsel.com - Kabupaten Tangerang kini tengah mengembangkan inovasi berbasis komunitas dalam sektor pertanian dengan memanfaatkan teknologi ramah lingkungan, yaitu penggunaan PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) yang dibuat dari akar bambu.
Upaya ini bertujuan untuk memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani melalui teknologi yang mendukung pertanian berkelanjutan.
PGPR merupakan kelompok bakteri yang hidup di sekitar akar tanaman dan memiliki peran penting dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman, kesuburan tanah, serta hasil panen.
Baca Juga: Gebyar HUT RI ke 79 di Pondok Cabe Udik: Karnaval Kreatif dan Semangat Kebersamaan Warga
Bakteri ini berfungsi dengan mengikat nitrogen dari udara dan mengubahnya menjadi amonia yang bermanfaat bagi tanaman.
Selain itu, PGPR juga menyuplai mineral penting seperti besi, fosfor, dan belerang yang dibutuhkan tanaman, serta merangsang hormon tanaman yang mendukung pertumbuhan optimal.
Inovasi ini dikembangkan oleh masyarakat Kabupaten Tangerang dengan memanfaatkan akar bambu yang telah lapuk sebagai bahan utama pembuatan PGPR.
Akar bambu dikenal mampu menghasilkan enzim selulase, terutama lingo selulase, yang membantu dalam proses dekomposisi organik dan pembentukan mikroorganisme yang bermanfaat. Proses pembuatan PGPR dari akar bambu ini melibatkan fermentasi yang mudah diikuti oleh para petani setempat.
Cara pembuatan PGPR ini dimulai dengan membersihkan dan menghancurkan akar bambu hingga memar, kemudian direndam dalam air selama 5-7 hari hingga terbentuk larutan dengan aroma khas. Larutan ini kemudian dicampur dengan dedak, terasi, kapur sirih, dan molase untuk menghasilkan produk yang siap digunakan.
PGPR yang dihasilkan dapat diaplikasikan langsung pada benih, bibit, atau tanaman dewasa untuk meningkatkan pertumbuhan dan ketahanan tanaman terhadap penyakit.
Penggunaan PGPR berbasis akar bambu ini memberikan berbagai manfaat bagi sektor pertanian, di antaranya meningkatkan ketahanan tanaman terhadap hama dan penyakit, terutama yang disebabkan oleh cendawan dan patogen lainnya.
Aplikasi PGPR juga terbukti mampu mengurangi keparahan penyakit pada tanaman, memperbaiki fiksasi nitrogen di tanaman kacang-kacangan, serta meningkatkan ketersediaan nutrisi penting di dalam tanah.
Artikel Terkait
Pemkot Tangerang Selatan Raih Penghargaan Universal Health Coverage 2024 dari BPJS Kesehatan
Panen Jagung Pulut di Ciputat: Edukasi Pertanian dan Agrowisata di Tangerang Selatan
Kepala Dinas Kesehatan Tangsel Bantah Isu Lansia Tidak Memiliki KIS dan BPJS, Pastikan Kepesertaan Aktif
Kemeriahan HUT ke 79 RI di Setu: Wali Kota Tangsel Ajak Masyarakat Semarakkan Peringatan Kemerdekaan
KPU Tangsel Gelar Rapat Pleno Terbuka DPS Pilkada 2024, Benyamin Davnie Hadir Berikan Dukungan