Kesehatan mental (jiwa) seseorang sangat berpengaruh dalam perilaku kehidupan sehari-hari mulai dari cara seseorang berpikir, bertindak, dan merasa. Dikutip dari Kemenkes, kesehatan mental yang baik adalah kondisi ketika batin seseorang berada dalam keadaan tentram dan tenang, sehingga bisa menikmati kehidupan sehari-hari.
Sebaliknya, orang-orang yang mentalnya terganggu akan mengalami gangguan suasana hati, kemampuan berpikir, dan akhirnya mengarah pada perilaku buruk (negative). Sungguh penting menjaga kesehatan mental sebagaimana menjaga kesehatan fisik karena kesehatan mental juga berpengaruh erat pada kesehatan fisik.
Melansir dari Mental Health Foundation, seseorang yang mengalami depresi, diketahui mengalami peningkatan risiko penyakit jantung koroner. Oleh karena itu, setiap individu wajib memahami pentingnya menjaga kesehatan mental sejak dini.
Gangguan mental (jiwa) juga dapat dialami kapan saja dan oleh siapapun juga, baik dari masyarakat yang berpendidikan rendah ataupun yang berpendidikan tinggi. Tanpa memandang status sosial ekonomi.
Penting untuk diketahui bahwa kesehatan mental seseorang dapat berubah seiring waktu, tekanan dan tergantung pada banyak faktor pencetusnya.
Ketika tuntutan yang ditempatkan pada seseorang melebihi sumber daya dan kemampuannya, akan sangat berpengaruh pada kesehatan mental mereka. Maka dari itu, perlu disadari bahwa gangguan mental (jiwa) bisa dialami kapan saja dan oleh siapapun juga.
Dikutip dari Antara, Menteri Sosial Tri Rismaharini dalam perayaan Hari Kesehatan Mental sedunia 10 Oktober 2022 juga menghimbau, agar masyarakat yang memiliki gangguan jiwa agar tidak dikucilkan, dikurung, dan dipasung, serta jangan dihakimi, karena ia sama-sama mahluk Tuhan.
Risma mengimbau seluruh wilayah Indonesia untuk membantu mengedukasi masyarakatnya tentang cara menangani penderita gangguan jiwa.