Jakarta, bidiktangsel.com - Inilah Dewan Juri yang telah bekerja memilih 10 dari 30 Bupati/Walikota, dari 18 provinsi di Tanah Air. Dari lima orang, empat orang berlatar belakang wartawan/penulis -- Ninok Leksono, Atal S.Depari, Agus Dermawan T, dan Yusuf Susilo Hartono -- dan seorang berlatar belakang akademisi, Nungki Kusumastuti (sebagai Ketua Dewan Juri).
Ninok Leksono, wartawan senior Kompas, yang sehari-hari sebagai Rektor Universitas Multimedia Nusantara. Atal S. Depari, Pemimpin Redaksi Majalah Suara Pemred yang kini menjadi Ketua Umum PWI Pusat. Agus Dermawan T, terkenal sebagai pengamat seni rupa, penulis buku-buku budaya dan seni, diantaranya "Perjalanan Turis Siluman : 51 cerita dari 61 Negara". Yusuf Susilo Hartono, Pemimpin Majalah Galeri, pelukis, pengurus PWI Pusat yang menggagas dan menangani Anugerah Kebudayaan PWI Pusat. Selain Dosen Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Nungki Kusumastuti, dikenal sebagai penari, dan artis film.
Sejak November 2019, Dewan Juri ini mulai bekerja dalam dua tahap. Pertama, membaca semua proposal yang masuk. Makalah digital, dikirim via email. Disyaratkan agar visualnya diperhatikan, tapi ada pula yang garing. Sudah diberi alur, tapi banyak yang membuat alur sendiri. Sudah ditentukan ketebalannya, sekitar 50 halaman, ada yang separonya sampai 250-an halaman. Diminta melampirkan foto, tapi ada yang nekat melampirkan video dengan size puluhan MB - 800-an MB. Semua itu harus disimak satu-satu, sampai mata "merah". Tanggal 27 Desember 2019, Dewan Juri rapat di Kantor PWI Pusat, Gedung Dewan Pers Lantai 4, Kebon Sirih, Jakarta. Memilih sepuluh proposal terbaik. Mewakili tiga zona : 1) Daerah/kota yang ada di dalam atau dekat dengan Ibu kota RI. 2) Daerah/kota yang ada di dalam/dekat Ibu kota Provinsi. Dan 3) daerah.kota yang jauh dari Ibu kota Provinsi. Tahap kedua, babak presentasi.
"Proposal-proposal yang dinilai bagus dalam Anugerah Kebudayaan PWI 2020 ini," kata Nungki Kusuamstuti, "membuat kami mengacungkan jempol karena di negeri kita terdapat sejumlah Walikota dan Bupati yang bergagasan komprehensif dan jernih untuk memajukan wilayah dan masyarakat daerahnya."
Tamasya Mengenali Kekayaan Budaya
Agus Dermawan T punya kesan lain. "Bagi saya, duduk sebagai juri Anugerah Kebudayaan Bupati/Walikota se Indonesia merupakan kesempatan yang sangat berharga. Karena dalam duduk itu saya dapat membaca berita kebudayaan yang ditulis oleh berpuluh Bupati/Walikota dari pelosok Nusantara. Dalam duduk, saya diajak bertamasya untuk mengenali kekayaan budaya dari banyak daerah. Lalu dalam duduk pula saya dibikin terpesona oleh aset budaya setiap daerah, yang semuanya unik, estetik, artistik dan luhur nilainya," tuturnya.
Dalam sidang “10 Besar Bupati/Walikota Berkebudayaan”, lanjut Agus, keunikan budaya daerah itu semakin tinggi terjunjung. Setiap Bupati/Walikota tampak menguasai hal ihwal kebudayaan di daerahnya. Setiap Bupati/Walikota punya kiat menarik untuk pemeliharaan, pengembangan, pemajuan dan pemanfaatan segala unsurnya. Dan semua itu berhilir kepada hasrat : menjadikan kebudayaan daerah sebagai spirit utama pembangunan semua aspek kehidupan masyarakat di wilayahnya. William Cowper, penyair Inggris abad 18 mengatakan : God made the county, and man made the town. Menakjubkan ketika melihat kenyataan betapa Bupati/Walikota Indonesia membangun kota dengan jiwa yang tetap desa.
"Sebagai pengamat kebudayaan (dan penggemar wisata), saya telah mengunjungi dan mengamati 110 kota dan desa di lebih dari 40 negara. Dari semua negara yang saya simak, sungguh, tak ada satu pun yang memiliki kekayaan budaya daerah seperti Indonesia. Saya yakin benar, kekayaan budaya daerah Indonesia terus hidup lantaran Bupati dan Walikotanya tak henti memelihara," tandasnya.