Demo Mahasiswa dan Viral Tilawah Fathur

photo author
Redaksi, Bidik Tangsel
- Kamis, 26 September 2019 | 13:06 WIB

Imbauan agar mahasiswa bersikap lebih elegan untuk berdialog dengan otoritas kekuasaan dalam forum yang bukan unjuk rasa, dari perspektif diskusi tentang UU KPK, bagaimanapun mendegradasi makna ekspresi aspirasi unjuk rasa.

Mobilisasi kekuatan moral mahasiswa patut dipahami sebagai opsi penyuaraan terakhir setelah semua suara dari beragam sumber akademik tak lagi didengar. Sikap Istana dan Gedung Parlemen sudah jelas: UU KPK tetap "must going on". Takkan ada alasan kondisi darutan mengeluarkan Perppu, dan jalan menguji UU ke Mahkamah Konstitusilah yang dibuka.

Kesimpulan bahwa demo mahasiswa ditunggangi bagaimanapun bukan jawaban bijak atas realitas pengamatan rakyat atas perkembangan sikap politik di Istana dan Gedung Parlemen.

Beberapa kali, saya menyaksikan sejumlah anggota DPR yang lebih memosisikan diri untuk tidak mendengarkan pernyataan lawan diskusi dalam talk show, lebih suka memotong, menuding, dan seolah-olah menyimpulkan yang lain bodoh dan tidak mengerti persoalan. Dalam kondisi demikian, debat pun bergerak lebih ke perspektif "kulit luar" ketimbang kemauan mempertimbangkan suara rakyat, sehingga tidak berlebihan ketika yang terpanggungkan adalah justru penegasan wajah kekuasaan dan wajah ketidakberdayaan rakyat.

Sayup-sayup Harapan

Anak-anak aktivis BEM itu, pada lima atau 10 tahun mendatang, boleh jadi akan menjelma menjadi jago-jago bicara seperti Fahri Hamzah, Fadli Zon, Budiman Sudjatmiko, atau Adian Napitupulu dengan beragam latar belakang, orientasi, dan impian politiknya. Tentu dengan sayup-sayup harapan bahwa Fathur cs memiliki sikap kerakyatan yang lebih baik dari para seniornya, untuk tidak menjadi -- setidak-tidaknya -- bagian dari kontroversi kekuasaan. Artinya, kita berharap anak-anak itu kelak tidak memperkuat tesis skeptik bahwa "mereka yang semasa mahasiswa berjuang bakal berbeda saat sudah berada di panggung kekuasaan".

Fathur Muqtadir boleh jadi adalah dekonstruksi dari dinamika pergerakan performa aktivis, walaupun perspektif "wajah spiritualitas" tidak bisa sekadar diukur dari kefasihan melafazkan ayat-ayat suci. Apakah ini substansi naratif, betapa sesungguhnya kita sedang merindukan "kesalehan politik" lewat penampilan berlogika, berargumentasi, dan kemampuan mencerahkan dengan cara-cara elegan?

Sekarang ini, keeleganan rasanya menjadi karakter langka, dengan pemunculan performa-performa minus yang justru tidak membuat nyaman perasaan publik. Oke, karakter memang melekat pada personalitas perseorangan, dan tidak selalu menjadi parameter kualitas intrinsik tujuan-tujuan perjuangannya. Akan tetapi, bukankah keeleganan yang menjadi kekuatan untuk membawa seseorang ke posisi kenegarawanan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Redaksi

Tags

Rekomendasi

Terkini

X