Konon, di Kabupaten Purworejo dahulu banyak terdapat tangsi atau barak serdadu belanda. Disaat senggang, untuk melepaskan penat dan lelah setelah bertugas di medan tempur, Serdadu Belanda mengisinya dengan bernyanyi dan menari.
Dari sanalah akhirnya mulailah warga sekitar mengemas dan mengembangkan nya menjadi sebuah kesenian baru. Penamaan dolalak sendiri berasal dari lafal notasi do-la-la yang mengiringi gerak dan tarian ini.
Selain untuk menyongsong Romansa Purworejo 2020. Pagelaran tari dolalak massal ini, memang sengaja digelar sebagai wujud kecintaan generasi muda, khususnya pelajar akan pelestarian budaya tradisional yang kian hari kian terpinggirkan oleh budaya asing. ( Fer )