Selanjutnya bisa dikerjasamakan dengan swasta atau pengusaha lokal, ‘business to business’. Bentuk yang bisa diadopsi banyak sekali. Masyarakat bisa didorong untuk membentuk Kelompok Usaha Bersama (KUBE), misalnya, memanfaatkan program Kementerian Sosial RI. Penjurunya bisa Sekber yang sudah terbentuk. Tapi, mereka perlu didorong untuk punya badan hukum. Agar ketika ada pihak yang berinvestasi, mereka lebih berdaya untuk melakukan negosiasi kepemilikan saham dan seterusnya.
Jika Sekber Jaletreng sudah berbadan hukum, banyak hal yang bisa dikerjakan juga. Dengan penataan manajemen yang lebih baik, Sekber Jaletreng bisa berkolaborasi dengan banyak pihak. Contoh sederhana, katakanlah mereka bekerjasama dengan para pengusaha UMKM untuk membuat pusat jajanan atau oleh-oleh. Jika mereka bekerjasama dengan komunitas dan melakukan kerja pemberdayaan masyarakat (community development), banyak persuahaan swasta atau BUMN yang juga bisa memberikan dana hibah tanggung jawab sosial (corporate social responsibility).
Sesungguhnya ada banyak contoh lain jika kita kita bisa berkolaborasi. Namun pemerintah juga perlu punya visi yang memadai serta komitmen yang tinggi untuk bisa memfasilitasi inisiatif masyarakat semacam ini. Hari ini, banyak sekali contoh tempat wisata daerah yang bahkan tak perlu melibatkan dana APBD (zero APBD). Jika sempat berkunjung ke Marina Boom Beach di Banyuwangi, jangan kaget jika tempat itu sepenuhnya dibangun dengan dana PT Pelindo. Tetapi tetap menjadi obyek wisata yang sebagian dikelola Pemda—yang keuntungannya dikembalikan kepada masyarakat.
Kuncinya satu, bisakah kita menaruh hati di Jaletreng, seperti para pemuda Sekber Jaletreng yang saya ceritakan tadi? Apakah pemerintah Kota Tangsel punya hati di sana? Kita perlu tanyakan langsung, tentu saja. Tetapi menyaksikan sampah yang masih berserakan di tepian sungai, limbah Taman Tekno yang masih bebas mengotori Jaletreng, saya kira kita masih punya PR yang sangat besar.
Tiba di Taman Kota II, di Jaletreng Riverpark, hati saya hancur. Tempat wisata yang dibanggakan beberapa waktu lalu itu kini tampak tak tertata. Beberapa fasilitas tampak rusak, sampah tak terkendali, warung-warung kaki lima tak tertata, motor berseliweran di jembatan yang harusnya untuk para pejalan kaki. Adakah hati yang kita simpan di sana?
Tabik!
FAHD PAHDEPIE – Tinggal di Bintaro, Tangerang Selatan. Tulisan-tulisannya bisa dibaca di www.fahdpahdepie.com
Tautan: https://fahdpahdepie.com/detail/blog/menaruh-hati-di-jaletreng