• Selasa, 7 Februari 2023

Kurs Rupiah Nyungsep, Inilah Komentar Ketua STIE Ahmad Dahlan

- Senin, 9 Juli 2018 | 13:24 WIB

Ciputat Timur - Kurs rupiah nyungsep alias lunglai berhadapan perkasanya USD. BI mencatat, kurs rupiah loyo 5,72 persen sejak awal 2018.  Kebijakan moneter pun di utak-atik oleh BI dengan memainkan instrumen suku bunga.

Seolah tidak ada instrumen lain. Di pengujung Juni 2018, BI pun menaikkan kembali suku bunga acuan 50 basis poin (bps) menjadi 5,25%. Lewat keputusan tersebut, dalam kurun waktu dua bulan, BI sudah mengerek suku bunga acuan total sebesar 100 bps.

Bisa dipastikan bakal berdampak pada tingkat suku bunga baik pinjaman maupun simpanan pada perbankan. Tak terkecuali bank kecil, termasuk BPRS, LKM, dan lainnya.

Di sudut lain, Kemenko Perekonomian seolah panik. Alih-alih, pada Jum’at (6/7), membentuk taskforce working group. Kelompok kerja ini merumuskan prioritas ekspor dan mengurangi impor. Upaya tersebut penting dilakukan dalam rangka menyehatkan struktur perekonomian.

Kondisi tersebut rupanya menyorot perhatian para ekonom. Salah satunya, Ketua STIE Ahmad Dahlan Jakarta, Dr. Mukhaer Pakkanna yang mengungkap kan bahwa saat ini ibarat paduan suara, pemerintah, praktisi bisnis dan beberapa pengamat ekonomi, ramai-ramai satu suara menjadikan kasus defisit perdagangan yang telah mencapai USD2,83 miliar sebagai biang kerok.

Demikian juga, perang dagang AS dan Cina yang sudah ditabuh. Negeri Paman Sam bakal mulai mengumpulkan tarif terhadap produk impor asal negeri bambu yang nilainya USD 34 miliar.

"Presiden Trump mengancam akan ada putaran berikutnya yang menyasar produk impor dari Cina senilai lebih dari USD 500 miliar. Sebelumnya, sudah cukup banyak peluru kebijakan proteksinisme yang beraroma populistik yang sudah ditembakkan si Trump," ujarnya.

Mukhaer yang juga sebagai Sekretaris Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan PP Muhammadiyah juga menjelaskan, selain defisit neraca perdagangan dan ketidak pastian pasar global, kesalahan juga ditembakkan pada menguatnya harga minyak dunia, tingginya pembayaran kewajiban dan bunga utang luar negeri, dan juga adanya musim emiten yang menyiapkan cash dividend untuk investor asing.

"Seperti Telkom harus membayar dividen kepada Singtel selaku pemegang saham terbesar Telkomsel," ungkapnya.

Halaman:

Editor: Redaksi

Tags

Terkini

Kota Bandung hadirkan Taman Edukasi Terakota

Senin, 6 Februari 2023 | 16:29 WIB

Bupati Klaten Cek Pembangunan Taman Kuliner

Senin, 6 Februari 2023 | 16:06 WIB
X