nasional

Surat-Surat Wasiat Mendiang Nana

Senin, 17 Juni 2019 | 00:10 WIB

Tidak terasa saya juga meneteskan aimata ketika membaca surat- surat wasiat Nana yang dishare di WAG keluarga.
Masih segar dalam ingatan ketika si kembar Lala dan Nana lahir. Tentu saja dia jadi primadonna karena kembar pertama dan satu-satunya hingga kini di dalam keluarga besar isteri. Tapi sampai sekarang saya masih sering keliru membedakan mana Lala yang mana Nana.

Waktu Nana kuliah di Kuala Lumpur, sekitar 2009, kami sempat mengunjungi dia di sana. Dua malam di KL siang malam Nana mengawal kami, menyetiri sendiri mobilnya membawa kami berkeliling Ibu Kota negeri jiran itu. Beberapa kali saya membesoeknya saat dirawat di RS.

Saya dan isteri baru sehari tiba di Makassar Jumat (7/6) ketika Nana wafat . Kabar itu disampai lewat tengah malam tapi baru kami ketahui saat bangun untuk salat subuh, Sabtu (8/6) waktu Makassar.

Selasa ( 11/6) malam saya tiba kembali di Jakarta. Rabu ( 12/6) kami takziyah di rumah duka. Bertemu Novizar, Didik, Lala, dan suaminya Asep, juga Toriq yang masih memendam duka. Saya sekalian minta izin untuk mengutip cuplikan surat-surat wasiat dalam tulisan obituari Nana.

Tiada lagi Nana. Semoga almarhumah Husnul Khotimah. Semoga Allah SWT menyediakan tempat terbaik , yang lapang, nyaman, dan indah di sisiNya. Dan bagi keluarga yang ditinggalkan khususnya Didik, suaminya, dan Adnan, sang bayi, diberi kekuatan, ketabahan, ketenangan jiwa, serta dipelihara keikhlasannya melepas Nana ke pangkuan Ilahi Rabbi. Sesungguhnya, memang hanya Dia lah pemiliknya yang sah, seru sekalian alam.

Halaman:

Terkini