Perolehan kursi tersebut diduga penuh syarat kepentingan untuk persiapan Pilkada 2020 di Tangsel. Hanya Golkar secara 20 persen kursi parlemen mampu mengusung calon kepala daerah tanpa koalisi partai manapun. Sementara, partai lainnya sebelum mengusungkan dalam pilkada harus disibukan dengan koalisi dengan partai lain.
Bila disandingkan dengan hasil pusat kemenangan PDI Perjuangan merupakan salah satu efek capres 01 Jokowi. Mestinya, bila hanya di Tangsel mampu memenang-kan pasangan 01 tentu PDI Perjuangan yang merupakan partai asalnya pasti unggul. Ditambah, selama kampanye PDI Perjuangan kerap memasang foto pasangan capres dan cawapres 01 namun tidak untuk Golkar yang hanya mensosialisasikan internal partainya.
Dewan Pengarah Tim Kemenangan Daerah (TKD) 01 sekaligus Ketua DPD Golkar Airin Rachmi Diany seharusnya dapat merangkul suara partai lainnya, bukan hanya memenangkan 01 lalu meninggalkan kesolidan koalisi,walaupun peran dari relawan pendukung Capres/Cawapres 01 yang sangat militan sangat berpengaruh untuk hasil yang suara 01 di Tangsel. Berbeda dengan wilayah Kabupaten dan Kota Tangerang meski kepala daerahnya bagian dari Golkar tetap merangkul suara partai lainnya untuk kesolidan koalisi pada pilkada nantinya.
Airin diduga memang sudah mempersiap kan manuvernya untuk pilkada 2020. Seperti terkuak adanya pertemuan sebelum pemilu 17 April untuk pengarahan suara Golkar yang diarahkan langsung oleh narapidana korupsi, mantan petinggi Golkar sekaligus mantan Gubernur Banten dalam pertemuan di LP Tangerang,yang juga dihadiri caleg DPR RI petahana dari Golkar.
Dipertemuan tersebut terjadi beberapa dialog untuk menggunggulkan Golkar. Parahnya, dalam pertemuan itu tampak terlihat dan terlibat penyelenggara pemilu PPK dan Panwascam. Ditambah, adanya sticker calon DPD RI yang merupakan keluarga mantan Gubernur Banten yakni Ratu Atut.
Tak hanya itu, dikabarkan adanya pengerahan Aparat Sipil Negara (ASN) untuk memenangkan Golkar atas intruksi Walikota Tangsel yang merupakan Ketua DPD Golkar Tangsel. Hasilnya sudah bisa diduga walaupun partai Golkar secara keseluruhan anjlok perolehan suaranya baik di tingkat pusat maupun provinsi tetapi menjadi pemenang diperolehan suara DPRD tingkat II Tangerang Selatan.
Sulit dicerna oleh akal karena selama masa kampanye tidak terlihat ada satupun caleg dari partai Golkar terlihat memajang foto Capres/Cawapres Jokowi-Amin di setiap Alat Peraga Kampanye (APK) masing-masing caleg Golkar, dan tidak ada upaya yang terlihat dari Airin untuk menegur. Malahan ada bahasa nyinyir yang terdengar didengungkan kubu lawan Airin yakni “lebih baik menang licik dari pada kalah terhormat”.
Seperti diketahui ketika Airin pertama kali mencalonkan diri menjadi Walikota pada tahun 2009 masyarakat menilai pada saat itu pemenangnya adalah kubu Arsid pada putaran pertama tapi kemudian MK memutuskan terjadi PSU.