Baca Juga: Janji Pejabat Tinggal Janji, Warga Kampung Kandang Sapi Pilih Swadaya Perbaiki Jalan Rusak
Sebelumnya, perhatian lebih banyak diarahkan pada mitigasi erupsi Gunung Tangkuban Parahu.
Namun, setelah berkonsultasi dengan PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), diketahui dampak erupsi gunung tersebut relatif kecil terhadap Kota Bandung dibandingkan risiko gempa dari Sesar Lembang.
“Awalnya Pak Wali Kota meminta mitigasi erupsi Tangkuban Parahu, tapi setelah kami diskusi dengan PVMBG, dampaknya kecil. Karena itu fokus kami sekarang diarahkan ke Sesar Lembang dan pergerakan tanah,” jelas Didi.
Baca Juga: Siapkan Rumah Aman bagi Korban Kekerasan Perempuan dan Anak, Benyamin: Perlindungan Harus Menyeluruh
Ancaman Kerusakan di Tingkat Kota
Mengutip hasil simulasi BRIN, Didi mengingatkan bahwa gempa akibat Sesar Lembang bisa menimbulkan kerusakan merata di seluruh Kota Bandung.
Tingginya kepadatan penduduk di kawasan perkotaan membuat risiko kerugian material maupun korban jiwa semakin besar.
“Dari hasil pemodelan, tingkat kerusakan mencapai MMI 8. Artinya, intensitas guncangan kuat bisa dirasakan merata di Kota Bandung,” tambahnya.
Menyadari potensi ancaman ini, pemerintah daerah mempercepat langkah mitigasi bencana.
BPBD menilai edukasi publik, simulasi tanggap darurat, serta penguatan kesiapsiagaan warga menjadi strategi paling mendesak untuk mengurangi risiko korban jika gempa besar benar-benar terjadi.
“Dengan kepadatan penduduk yang tinggi, mitigasi harus menyentuh langsung ke masyarakat. Kami akan menggencarkan pelatihan dan sosialisasi agar warga lebih siap menghadapi gempa bumi,” tutup Didi.
(***)