“Tapi, ketika pelajaran sudah mulai, maka kelas 3 belajar di luar dan kelas 2 di dalam kelas,” lanjutnya.
Bangunan dari seng tersebut juga terungkap hasil dari swadaya masyarakat yang terakhir kali direnovasi pada tahun 2016 lalu.
Berganti-gantian Ruang Kelas
Lebih lanjut, ruang kelas yang terbatas itu memaksa para siswa untuk saling bergantian.
Seperti siswa kelas 3 akan menggunakan ruangan kelas 1 saat kegiatan belajar selesai.
Namun, saat kondisi cuaca sedang baik, siswa kelas 3 akan belajar di luar ruang dan baru masuk kelas saat siswa kelas 1 sudah pulang.
SDN Tando sendiri dibangun pada tahun 2014 dan kini memiliki 68 siswa yang belajar di sekolah tersebut.
Baca Juga: Final Liga 4 Banten 2026 Sukses Digelar, Stadion Benteng Reborn Bergemuruh!
Menuai Keprihatinan Warganet
Potret ketimpangan fasilitas pendidikan di Indonesia tersebut lantas mendapat sorotan dari warganet.
Beberapa komentar yang diberikan di antaranya, “Sedih sekali, sudah berapa kali ganti pemimpin Manggarai Barat, tapi Infrastruktur masih kayak gini,” tulis akun @pau******o
“Pemerintah lagi bangun sekolah dan memperbaiki sekolah rusak, ditambah bangun jembatan. Sabar dulu lagi,” tulis akun @mai**********s
“Kesenjangan kota dengan daerah sangat jauh, dari saya kecil sampai tua masih ada yang begini,” tulis akun @bot*******7
***
Artikel Terkait
Antusiasme Tinggi, Menaker Ajukan Tambahan 150 Ribu Kuota Magang Nasional 2026
Final Liga 4 Banten 2026 Memanas: Harin FC vs Nathan Lebak Berebut Tiket Nasional
Perjanjian Kerja Bersama Harus Dikawal, Tantangan Ada pada Implementasi
Buntut Perceraian dan Mediasi Gagal, Viral Video Rumah di Pati Dibongkar karena Gono-Gini
KORMI Tangsel Susun Program Anggaran 2027, Fokus Persiapan FORNAS Palu