Sindrom “Naik Tiba-Tiba”: Tragedi Komunikasi Publik di Balik Panic Buying BBM

photo author
Radi Iswan, Bidik Tangsel
- Rabu, 1 April 2026 | 18:55 WIB
kemacetan horor tak terhindarkan akibat gelombang panic buying masyarakat yang khawatir harga BBM melonjak pada 1 April 2026
kemacetan horor tak terhindarkan akibat gelombang panic buying masyarakat yang khawatir harga BBM melonjak pada 1 April 2026

Tangerang Selatan - Tragedi antrean panjang di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) pada 31 Maret 2026 menjadi potret nyata rapuhnya kepercayaan publik terhadap komunikasi kebijakan energi nasional. 

Dari Tangerang Selatan hingga Daan Mogot Jakarta Barat, bahkan menjalar ke Surabaya dan Sidoarjo, kemacetan horor tak terhindarkan akibat gelombang panic buying masyarakat yang khawatir harga BBM melonjak pada 1 April 2026 pukul 00.00 WIB.

Ironisnya, kepanikan tersebut bukan dipicu kelangkaan pasokan riil, melainkan beredarnya selebaran viral di media sosial yang mengklaim harga Pertalite akan naik hingga Rp14.000 per liter dan Pertamax menembus Rp16.500 per liter, dikaitkan dengan tensi geopolitik Timur Tengah. 

Meski pemerintah melalui Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi telah memastikan tidak ada kenaikan harga BBM, klarifikasi tersebut datang ketika kepanikan sudah telanjur meluas.

Baca Juga: BBM Stabil, Ekonomi Daerah Menguat, Stabilitas BBM Kunci Penguatan Ekonomi Daerah

Fenomena ini mendapat sorotan tajam dari Analis Kebijakan Publik lulusan IPB University, Aditya Bayu Wardana, SM, M.Si, yang menilai peristiwa tersebut sebagai tragedi komunikasi publik yang berulang.

“Sindrom Tengah Malam” dan Trauma Kolektif Kebijakan

Menurut Aditya, kepanikan masyarakat tidak dapat semata-mata disederhanakan sebagai rendahnya literasi digital atau mudahnya publik termakan hoaks. Ia menilai terdapat trauma kolektif yang terbentuk dari pola historis kebijakan energi yang sering diumumkan secara mendadak.

Ia menyebut fenomena ini sebagai “sindrom tengah malam”, yaitu kondisi psikologis masyarakat yang terbiasa menghadapi perubahan harga BBM secara tiba-tiba tanpa sosialisasi memadai.

“Masyarakat kita ini mengidap trauma kolektif. Terlalu sering kebijakan strategis diumumkan malam hari, lalu tepat tengah malam harga sudah berubah. Perasaan ‘nanti tiba-tiba sudah naik’ itu tertanam kuat di benak publik,” ujar Aditya.

Dalam perspektif ekonomi perilaku, ketidakpastian harga komoditas vital seperti BBM memicu respons rasional masyarakat akar rumput. 

Bagi kelompok berpenghasilan menengah ke bawah, selisih Rp1.000 hingga Rp2.000 per liter memiliki dampak signifikan terhadap pengeluaran bulanan. 

Baca Juga: Kebakaran Hebat Bengkel Hendri Motor Pamulang, Kerugian Ditaksir Rp3,5 Miliar

Ketika rumor menyentuh memori trauma tersebut, reaksi spontan menjadi tidak terhindarkan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Radi Iswan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X