Diskusi ISI: Perubahan Arah Kebijakan AS Tekan Stabilitas Indo-Pasifik dan Uji Peran Indonesia

photo author
Radi Iswan, Bidik Tangsel
- Jumat, 30 Januari 2026 | 21:38 WIB
Indo-Pacific Strategic Intelligence (ISI) gelar diskusi daring bertajuk “Spheres of Influence and Strategic Retrenchment: How Trump Reshapes Great Power Competition and Its Implications for the Indo-Pacific”. (Dok. ISI)
Indo-Pacific Strategic Intelligence (ISI) gelar diskusi daring bertajuk “Spheres of Influence and Strategic Retrenchment: How Trump Reshapes Great Power Competition and Its Implications for the Indo-Pacific”. (Dok. ISI)

Baca Juga: PWI–Kemenhan Gelar Retret HPN 2026, Perkuat Pers Profesional dan Berwawasan Kebangsaan

Dari perspektif pertahanan Indonesia, Kepala Pusat Studi Maritim Sekolah Staf dan Komando TNI Angkatan Laut, Laksamana Pertama Salim, S.E., M.Phil., M.Tr.Opsla., menilai retrenchment kebijakan luar negeri Amerika Serikat mendorong negara-negara kawasan, termasuk Indonesia, untuk memperkuat otonomi strategis melalui internal balancing.

Salim menekankan pentingnya peningkatan pengawasan maritim, modernisasi kekuatan laut, serta pembangunan infrastruktur pelabuhan dan armada guna menjaga stabilitas jalur pelayaran dan mencegah eskalasi konflik akibat salah perhitungan strategis.

Kerja sama regional, terutama melalui ASEAN, tetap dipandang krusial, namun perlu diimbangi dengan postur pertahanan nasional yang kuat dan mandiri.

Baca Juga: Pilar Saga Ichsan Hadiri Musrenbang Ciputat, Serap Aspirasi Warga untuk RKPD 2026

“Indonesia harus mencegah keterjebakan dalam rivalitas kekuatan besar, sambil tetap berperan sebagai aktor kunci dalam menjaga stabilitas kawasan dan tatanan berbasis hukum, khususnya di sektor maritim,” ujar Salim.

Hal tersebut diutarakannya, seraya menegaskan kembali prinsip bebas dan aktif dalam politik luar negeri Indonesia.

Eskalasi Persaingan AS vs China

Sementara itu, Direktur Riset ISI, Dr. Ian Montratama, menyoroti eskalasi persaingan Amerika Serikat dan China telah memberikan tekanan serius terhadap sentralitas ASEAN, seiring menjamurnya kerja sama minilateral yang berpotensi menggerus kepemimpinan kawasan.

Baca Juga: Maria Teresa Suhardja: Musrenbang Jombang 2026 Fokus Infrastruktur dan PJU, DPRD Tangsel Dorong Sinergi Antar Fraksi

Montratama mengusulkan, pendekatan realisme pragmatis melalui konsep armed neutrality, yakni penguatan kapabilitas pertahanan nasional yang dibarengi dengan keterbukaan terhadap kerja sama fungsional bersama kekuatan besar.

Menurutnya, Indonesia dapat menerapkan strategi functional decoupling dengan menjalin kerja sama ekonomi dan pembangunan bersama China, serta kolaborasi pertahanan dengan Amerika Serikat, tanpa harus berpihak secara politik.

“Biaya untuk menjadi musuh Amerika Serikat maupun China sangat besar. Namun, ketergantungan berlebihan pada salah satu pihak juga membawa risiko strategis,” terang Montratama.

Konsep Indo-Pasifik sebagai Kerangka Strategis

Pandangan lain disampaikan Dr. Jeanne Francois, Dosen Hubungan Internasional di President University, yang menilai konsep Indo-Pasifik telah berkembang dari sekadar retorika menjadi kerangka strategis yang relatif berkelanjutan dalam membentuk dinamika interaksi kawasan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Radi Iswan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Pahami Yuuk Menjadi Kuasa Wajib Pajak

Jumat, 14 Agustus 2026 | 13:07 WIB
X