"Korbannya di Singapura juga banyak, terutama kaum ibu. Bedanya, di Indonesia jumlahnya lebih besar karena masyarakat kita kebanyakan pemimpi. Semua ingin kaya cepat tanpa kerja keras," ungkap Hendry.
Baca Juga: Ketua PWI Sulsel Tegak Lurus Satu Komando, Siap Hadiri HPN 2025 di Banjarmasin
Rektor Universitas Sahid Jakarta, Prof. Dr. Ir. Giyatmi, dalam sambutannya menegaskan bahwa media harus menjadi garda terdepan dalam memerangi pinjol ilegal dan judol.
"Kami berharap seminar ini bisa berlanjut dengan riset sederhana yang menggali faktor-faktor penyebab masyarakat terjerat pinjol ilegal dan judol," ujarnya.
Dengan adanya kerja sama antara media, akademisi, dan otoritas keuangan, diharapkan dapat tercipta solusi efektif dan berkelanjutan dalam mencegah dampak negatif dari pinjol ilegal dan judol bagi masyarakat Indonesia. (***)
Artikel Terkait
Ketua PWI Sulteng Tegak Lurus Satu Komando, Siap Hadiri HPN 2025 di Banjarmasin
Pemprov Banten Raih Skor 91,8 dalam Implementasi Program Pengendalian Gratifikasi KPK RI
Menteri ATR/BPN Pecat 6 Pegawai Terkait Penertiban Sertifikat Pagar Laut Tangerang
DPRKP Kabupaten Serang Targetkan Pembangunan 1.000 Unit Rutilahu pada 2025
BPR/BPRS Harus Permudah Akses Masyarakat Kecil, Dorong UMKM Naik Kelas