Positive Thinking Ala Timnas Jerman

photo author
Redaksi, Bidik Tangsel
- Rabu, 18 November 2020 | 01:50 WIB

Begitu juga ketika Jerman menjuarai Piala Dunia dua puluh tahun berikutnya, 1974. Jerman memang mempunyai Franz Beckenbauer. Libero yang digelari teman-temannya sebagai sang Kaisar karena mempunyai karakter leadership yang kuat. Namun pada saat bersamaan, tim yang dihadapi adalah Belanda dengan Johan Cruyff dan Total Football nya. Belanda dengan Cruyff pada tahun 1974 sedang dalam puncak penampilan dan lebih superior dibanding Jerman. Kalau di Babak Semifinal Belanda begitu perkasa mengalahkan Brasil dengan skor meyakinkan 2-0, sementara Jerman mesti berususah payah menyingkirkan Polandia dengan skor tipis 1-0.

Namun hasil akhirnya seperti sudah diketahui. Goal Gerd Mueller menjadikan Jerman yang inferior menghancurkan Belanda yang superior. Satu-satunya kesempatan Belanda menjadi Juara Piala Dunia, dihancurkan Jerman dengan pikiran positif dan kepercayaan dirinya.

Namun ada pertanyaan mendasar berkaitan dengan berpikir positif atau percaya diri dan kesuksesan. Bila betul berpikir positif dan percaya diri berimbas kepada kesuksesan, kenapa Jerman tidak selalu menang di setiap perhelatan Piala Dunia?Sejak Piala Dunia Sepakbola digelar tahun 1930, ada 21 kali Piala Dunia sampai tahun 2018. Lalu kenapa dari 21 kali penyelenggaraan Jerman hanya menjadi juara sebanyak 4 kali saja. Tidak sampai 4% dari jumlah total penyelenggaraan. Kenapa masih kalah dibanding Brasil yang menjadi Juara 5 kali atau terbanyak. Hanya sampai itukah efek dari percaya diri?

Mengenai hal ini, ada jawaban menarik dari Lothar Matthaeus dalam sebuah dokumenter berjudul "Becoming Champion" yang ditayangkan Netflix. Matthaeus adalah Libero dan Kapten Timnas Jerman yang berhasil membawa negaranya menjadi Juara Dunia pada tahun 1990. Menurut Matthaeus, berpikir positif dan percaya diri juga tidak bisa semena-mena diterapkan. Berpikir positif, harus sesuai dengan realitas yang ada. Orang tidak bisa bergantung terus menerus kepada berpikir positif ketika realitasnya memang tidak sesuai.

Karenanya meski Jerman terbiasa percaya diri dan berpikir positif, Jerman gagal beberapa Piala Dunia berikutnya. Karena timnas Jerman pada waktu itu, dianggap lemah dan tidak layak juara. Ada regenerasi pemain yang menyebabkan timnas Jerman dianggap tidak layak menjadi juara. Meskipun percaya diri dan berpikir positif sudah terinternalisasi.

Kepercayaan diri muncul kembali ketika Juergen Klinsmann dan Joachim Loew membangun timnas Jerman dari dasar. Klinsmann melihat rekrumen pemain muda menjadi sesuatu yang sangat penting dalam membangun timnas Jerman. Di tahun 2014 ketika Joachim Loew meneruskan kerja Klinsmann, berpikir positif bertautan dengan kondisi timnas Jerman yang layak juara. Tidak heran, pada tahun itulah Loew berhasil membawa Jerman menjadi Juara Dunia untuk ke empat kalinya. (*/Del)

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Redaksi

Rekomendasi

Terkini

X