Ada juga yang berpendapat bila Jerman adalah tim yang pantang menyerah dan petarung sampai akhir pertandingan. Seperti Mesin Diesel yang ditemukan orang Jerman, seperti itu juga timnas Sepakbola Jerman. Makin lama, permainannya makin panas bukan makin lembek. Kalah menang hanya akan ditentukan ketika peluit akhir dibunyikan. Siapapun lawan Jerman, selalu mengingatkan supaya tim tetap fokus sampai menit terakhir, meski sudah menang. Karena tim bavaria ini akan selalu merepotkan mereka sampai menit terakhir.
Namun selain disiplin, karakter mesin diesel dan karakter bertarung sampai akhir, Andreas Brehme menambahkan karakter kekuatan pikiran yang juga menjadi penentu. Menurut Brehme, pemain Jerman selalu berpikir positif setiap mau menghadapi pertandingan. Yakin bahwa sesulit apapun situasi pasti bisa diatasi dan setangguh apapun lawan yang dihadapi, pasti bisa dikalahkan.
Brehme pastinya tidak sembarang ucap dengan pendapatnya itu. Karena Bek Kiri timnas Jerman adalah anggota Timnas Jerman yang mengantarkan der panzer menjadi Juara Dunia tahun 1990. Goal tendangan pinalti Brehme adalah penentu kemenangan Jerman atas Argentina di final Piala Dunia 1990. Padahal ketika itu Brehme mesti menghadapi Sergio Goychochea yang dikenal sebagai kiper penjinak tendangan pinalti. Sementara penembak utama pinalti nya adalah Lothar Matthaeus. Digantikan Brehme karena Matthaeus bukan hanya baru berganti sepatu di pertengahan pertandingan, tapi juga merasa tidak percaya diri mengambil tendangan pinalti yang sangat menentukan itu.
Apa yang disampaikan Brehme, tidak berbeda dengan pendapat Nils Haveman, sejarawan Jerman, juga sejawatnya Kapten Timnas Jerman, Lothar Matthaeus. Mereka sepakat bahwa berpikir positif, yakin menang sudah menjadi mental dan karakter pemain Jerman.
Berpikir positif dan percaya diri inilah yang menjadi penjelas kenapa Jerman bisa menyabet Piala Dunia 1954. Padahal pada tahun ini Jerman menghadapi masalah pelik baik secara psikologis maupun tekhnis permainan.
Secara psikologis, Jerman tahun 1954 adalah negeri yang sedang menanggung malu dan hinaan karena Perang Dunia II. Jerman bukan hanya dianggap aktor utama penyebab Perang Dunia II yang sudah membunuh jutaan orang, tapi Jerman juga negeri yang kalah perang. Jerman adalah negeri pecundang. Secara mental Jerman terhina karena kalah perang, sementara pada saat yang sama negerinya sedang membangun keruntuhan akibat perang.
Sementara secara tekhnis permainan, Jerman juga menghadapi masalah serius. Di babak final, lawannya bukan tim kaleng-kaleng. Hungaria pada tahun 1954 adalah timnas sepakbola unggulan yang ditakuti. Pada tahun itu, Hungaria adalah tim superior dihadapan Jerman.
Namun mentalitas dan berpikir positif Jerman, menghapus semua halangan itu. Kemenangan pada Final Piala Dunia 1954 bukan hanya bermodalkan percaya diri dan berpikir positif, tapi juga mengembalikan kepercayaan diri orang Jerman setelah jatuh hancur karena Perang Dunia II.