Ia juga membandingkan budaya konsumsi ikan di sejumlah negara maju seperti Jepang dan negara-negara Eropa yang dinilai berkontribusi terhadap kualitas kesehatan dan perkembangan fisik masyarakatnya.
"Kita ingin masyarakat Indonesia, khususnya Tangsel, tidak lagi makan hanya untuk kenyang. Sekarang zamannya makanan berkualitas agar anak-anak memiliki modal fisik dan perkembangan otak yang baik sehingga mampu bersaing di masa depan," ujarnya.
Pilar menegaskan konsumsi ikan juga memiliki hubungan erat dengan upaya pencegahan stunting, terutama pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yang menjadi periode paling menentukan bagi pertumbuhan anak.
Menurutnya, pemenuhan gizi ibu sejak masa kehamilan hingga menyusui akan sangat memengaruhi kualitas ASI dan pertumbuhan bayi.
"Kalau ibu hamil dan menyusui rutin mengonsumsi ikan sebagai sumber protein hewani, tentu kualitas gizi anak akan berbeda. Itulah yang sedang kita kejar dalam upaya menurunkan stunting," katanya.
Baca Juga: Diprotes 2.000 Runner, Panitia Tangsel Fun Walk & Run Minta Maaf Soal Medali Telat
Pada hari yang sama, Pilar juga menghadiri kegiatan Posyandu yang tengah mengikuti penilaian tingkat Provinsi Banten. Ia menyebut salah satu fokus utama penilaian adalah kualitas layanan pos gizi bagi ibu hamil dan balita.
"Pos gizi harus mampu memberikan makanan bergizi seperti ikan, ayam atau daging secara bergantian, bukan sekadar makanan yang hanya mengenyangkan," tuturnya.
Melalui kampanye GEMARIKAN, Pemerintah Kota Tangerang Selatan berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya konsumsi ikan terus meningkat sehingga mampu menciptakan generasi yang sehat, cerdas, bebas stunting, dan memiliki daya saing di masa mendatang.
(***)