Arahkan anggaran publik untuk kebutuhan yang lebih nyata, seperti bantuan sosial bagi rakyat miskin, peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan, serta pembenahan sistem kebersihan kota yang kini masih jauh dari ideal.
Budayawan Uten Sutendi menegaskan, pembangunan seharusnya tidak sekadar menampilkan kemegahan visual, melainkan menciptakan kehidupan kota yang beradab, inklusif, dan berpihak pada manusia.
“Kota yang maju bukan yang banyak bangunannya, tapi yang bisa membuat warganya bahagia dan sejahtera,” tegasnya.
Senada, aktivis sosial Syamsu Rizal juga menyampaikan kritik tajam.
Baca Juga: ICW Tunggu Ketajaman KPK Berantas Korupsi: Jangan sampai Baru Mau Jadi Macan, Balik Lagi Jadi Meong
“Bilangin, nggak usah bikin taman yang nilainya miliaran kalau nggak bisa ngerawat, melihara, dan menetapkan sistem pemanfaatan yang bijaksana untuk sebesar-besarnya kepentingan warga,” ujarnya.
Sudah waktunya Tangsel berbenah arah pembangunan, bukan menambah beban baru. Pemerintah harus berani melakukan jeda pembangunan fisik dan berfokus menghidupkan yang sudah ada.
Karena kota yang bijak bukan yang sibuk membangun, tapi yang tahu kapan harus berhenti demi kebaikan warganya sendiri. (***)