Ciputat, bidikTangsel.com – Di balik gemerlap pembangunan Kota Tangerang Selatan, masih ada potret kehidupan yang jauh dari kata layak.
Enci (65) dan Sanah (53), pasangan suami-istri warga Cipayung RT 002/05, Kecamatan Ciputat, harus berjuang keras demi menghidupi kelima anak mereka.
Hidup di sebuah gubuk reyot di atas tanah negara, keduanya menjalani profesi sebagai pemulung dan penjaga parkir untuk bertahan hidup.
Baca Juga: Menteri Ara Pro Orang Kaya? Warga Gugat Permen No. 5/2025 ke Mahkamah Agung
Hidup di Bawah Garis Kemiskinan
Sehari-hari, Enci dan Sanah keluar masuk gang di wilayah Ciputat untuk mengais barang bekas yang masih bisa dijual.
Hasil dari memulung botol plastik, kardus, dan besi tua itulah yang menjadi sumber nafkah utama. Kadang, Sanah juga menjaga parkiran di kawasan Cipayung untuk menambah pemasukan.
“Yang penting bisa makan sehari-hari, Mas. Anak-anak jangan sampai kelaparan,” ujar Enci saat ditemui di gubuk sederhana yang mereka tempati.
Baca Juga: MRT Ekspansi ke Banten, Andra Soni Yakin Munculkan Pusat Ekonomi Baru
Kondisi rumah yang mereka huni jauh dari kata layak. Bangunan semi permanen beratapkan seng dan dinding dari papan bekas itu berdiri di lahan negara.
Meski demikian, keluarga ini tetap ber-KTP Tangerang Selatan, menandakan bahwa mereka merupakan warga resmi kota yang kerap digadang sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di Banten.
Menghidupi Lima Anak dengan Keterbatasan
Dengan penghasilan tak menentu, Enci dan Sanah harus membagi rezeki seadanya untuk kelima anaknya.