Ciputat, bidiktangsel.com — Kasus dugaan pencabulan terhadap siswi salah satu SMK swasta di Ciputat, Tangerang Selatan, menuai perhatian publik.
Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Tangerang Selatan memastikan akan mengawal kasus ini hingga tuntas, termasuk memberikan pendampingan psikologis kepada korban.
Kepala DP3AP2KB Tangsel, Cahyadi, menegaskan bahwa pihaknya telah mengambil langkah cepat setelah menerima laporan dari keluarga korban.
Baca Juga: Baznas Bangun Kesejahteraan Warga Tangsel Lewat Program Terpadu: Pendidikan hingga Ekonomi
“Korban sudah kami rujuk ke RSUD Puspem untuk menjalani visum. Selain itu, kami juga menjadwalkan pendampingan psikologis untuk membantu proses pemulihan mental korban,” kata Cahyadi dalam keterangannya kepada wartawan, Selasa (7/5).
Menurut Cahyadi, kondisi korban sempat menurun drastis secara psikis maupun akademis.
“Nilainya menurun dan secara emosional juga terlihat ngedrop. Hal ini lumrah karena tekanan mental yang berat. Tapi sekarang, dengan pendampingan, kondisi korban perlahan mulai membaik,” ungkapnya.
Baca Juga: Bupati Tangerang Tinjau Langsung Perbaikan Jalan Cangkudu–Cisoka, Prioritaskan Keselamatan Warga
Kasus ini juga memunculkan pertanyaan besar tentang efektivitas Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) di sekolah-sekolah.
Meski sekolah mengklaim telah memiliki TPPK dan menjalankan SOP sesuai Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023, keluarga korban merasa tidak mendapat respon yang memadai dari pihak sekolah.
“Dari keterangan orang tua korban, tidak ada itikad baik dari pihak sekolah dalam menangani kasus ini. Padahal sekolah menyatakan sudah melakukan penanganan, kami akan mendalami sejauh mana TPPK sekolah tersebut benar-benar bekerja sesuai regulasi.” ujar Cahyadi.
Cahyadi juga menyoroti tantangan implementasi TPPK di lapangan.
Menurutnya, meskipun secara struktural tim sudah terbentuk di banyak sekolah, pelaksanaannya masih lemah.