Makan Bergizi Gratis di SD Tangsel Dinilai Tak Sesuai Ketentuan, Siswa Hanya Dapat Makanan Olahan

photo author
Radi Iswan, Bidik Tangsel
- Kamis, 17 Juli 2025 | 12:26 WIB
Sejumlah orang tua murid menilai kualitas makanan yang dibagikan jauh dari standar gizi
Sejumlah orang tua murid menilai kualitas makanan yang dibagikan jauh dari standar gizi

Serpong, bidiktangsel.com — Program makan bergizi gratis (MBG) yang dijalankan di sejumlah Sekolah Dasar (SD) di Kota Tangerang Selatan menuai sorotan publik.

Sejumlah orang tua murid menilai kualitas makanan yang dibagikan jauh dari standar gizi yang seharusnya.

Dari pantauan langsung dan testimoni wali murid, diketahui bahwa makanan yang diberikan sebagian besar merupakan produk olahan instan, seperti burger isi selada dan jagung, nugget, sosis, bahkan mie goreng dalam kemasan, yang dikemas seadanya dalam plastik kecil atau kotak makan siang.

Baca Juga: Warga Cikupa Histeris Saksikan Rumah Dibongkar Paksa, PT LTJ Diduga Langgar Prosedur

“Anak saya hanya dikasih burger dan satu pisang. Sebelumnya malah dapat makanan mentah yang dijual di toko, belum dimasak. Apa iya ini nilainya Rp15 ribu?” keluh Rina (37), wali murid SDN di Serpong.

Kondisi serupa terjadi di beberapa SD lain di wilayah Pamulang dan Ciputat, dengan temuan menu yang tidak memenuhi unsur gizi seimbang seperti karbohidrat kompleks, lauk protein alami, dan sayuran segar, sebagaimana diatur dalam pedoman makanan sehat dari Kementerian Kesehatan.

Padahal, program makan gratis ini merupakan bagian dari upaya nasional untuk mencegah stunting dan meningkatkan kualitas belajar siswa melalui asupan bergizi.

Baca Juga: DPRD Kota Tangsel Soroti Proyek Yayasan Beth Shalom yang Diduga Picu Banjir di Kencana Loka

“Kalau isi makanannya olahan semua, ini sudah melenceng dari tujuan program. Harus ada audit dan evaluasi penyedia,” ujar Tb. Ardhiansyah Adhit, selaku Dewan Pakar Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Republik Indonesia (GMPRI).

Adhit menambahkan, hal yang menjadi standar menu MBG seharusnya direkomendasikan menggunakan bahan pangan lokal dan bukan makanan populer.

"Makanan harus aman dikonsumsi, diolah dengan cara yang higienis, dan sangat direkomendasikan menggunakan bahan pangan lokal. Kemudian, bukan makanan populer, melainkan memastikan semua komponen makro dan mikronutrien tercakup," tambahnya.

Baca Juga: Bupati Serang Tegaskan Dukungan Penuh untuk Pelaku Wirausaha Mikro

Masih menurut Adhit, semestinya pihak ketiga ataupun penyedia kembali memperhatikan tujuan dan historis program tersebut tercetus.

"Ini penyedia harus menjelaskan kandungan gizi di balik hamburger itu. Karena, tujuan sesungguhnya yang negara inginkan adalah adanya peluang untuk memutus rantai stunting, meningkatkan konsentrasi belajar, dan juga menciptakan generasi cerdas,"tandasnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Radi Iswan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X