LEBAK – Kampung Cipurun, sebuah wilayah dengan tingkat kerentanan bencana alam yang tinggi di Kabupaten Lebak, Banten, menjadi saksi upaya kolaboratif dalam membangun generasi muda yang tanggap bencana.
Dalam rangka pembukaan Rumah MARIMBA 3, Gugus Mitigasi Lebak Selatan (GMLS) menggandeng mahasiswa Humanity Project Batch VI Universitas Multimedia Nusantara (UMN) untuk menggelar Workshop Relawan Fasilitator Rumah MARIMBA pada Selasa, 20 Mei 2025.
Kegiatan yang dilaksanakan di RA Annajah Cipurun ini diikuti oleh 13 relawan dari Desa Tangguh Bencana (DESTANA) Situregen dan dirancang untuk memperkuat kapasitas literasi dan edukasi kebencanaan berbasis anak-anak usia dini.
Literasi sebagai Kunci Ketangguhan Anak di Wilayah Rawan Bencana
Tak hanya sekadar mengajarkan membaca dan menulis, literasi dalam konteks Rumah MARIMBA dimaknai sebagai kemampuan memahami informasi, mengenali risiko, serta membuat keputusan cepat dan tepat saat bencana. Aina Nur Sabrina, Project Manager Rumah MARIMBA 3, menekankan pentingnya peran literasi sejak usia dini.
"Anak-anak yang terbiasa membaca cenderung lebih cepat memahami instruksi keselamatan, mengingat langkah-langkah evakuasi, dan menyerap pengetahuan mitigasi bencana," ungkap Aina.
Sebagai informasi, di Kampung Cipurun terdapat sekitar 73 anak berusia 4 hingga 7 tahun.
Di RA Annajah sendiri, masih banyak siswa yang belum lancar membaca—hal ini memperlihatkan urgensi program seperti Rumah MARIMBA.
Baca Juga: STASA Gallery Resmi Dibuka di Ciater Serpong: Dedikasi untuk Kemajuan Seni Rupa Indonesia
Simulasi Interaktif dan Pendekatan Afektif: Melatih Empati Relawan
Workshop ini mengusung metode pelatihan yang interaktif dan menyenangkan. Materi disampaikan melalui simulasi permainan edukatif, diskusi tentang kondisi geografis setempat, serta pendekatan afektif guna membangun kelekatan emosional antara relawan dan anak-anak.
“Workshop ini sangat dibutuhkan karena kami diajarkan mengenai sifat anak-anak yang berbeda-beda. Jadi kami tahu bagaimana cara terbaik berinteraksi dengan mereka,” ujar salah satu relawan DESTANA.
Tak hanya membekali keterampilan penyampaian materi, para peserta juga diajak memahami aspek psikologis anak dalam menghadapi situasi darurat—suatu hal yang sangat krusial di daerah rawan gempa dan potensi tsunami seperti Kampung Cipurun.
Artikel Terkait
Dua Pendemo Mengaku Mahasiswa Unpam Dituding Intimidasi Wartawan Saat Aksi di Tangsel
Peningkatan Jumlah Hewan Kurban di Al-Azhar BSD: Edukasi Nilai Qurban Sejak Dini Lewat Tabungan Siswa
Guru Besar UIN Jakarta Ajak Bangun Tangsel dengan Semangat Kurban
Wawancara Lima Calon Sekda Provinsi Banten Rampung, Tahap Pleno Segera Dimulai
Sholat Idul Adha 1446 H di Masjid Raya Al-Bantani: Momentum Spiritualitas dan Solidaritas Umat