Dalam prosesi Seba, terlihat kontras yang mencolok antara pakaian adat Baduy Dalam yang serba putih sebagai simbol kesucian dan ketaatan terhadap adat, dan Baduy Luar yang mengenakan pakaian hitam sebagai simbol keterbukaan mereka terhadap dunia luar, namun tetap menjaga akar budaya.
“Saat salah satu dari mereka berbicara, yang lain hening mendengarkan. Tidak ada suara, tidak ada interupsi. Itu adalah bentuk disiplin dan rasa hormat yang luar biasa,” kata Andra Soni mengapresiasi sikap warga Baduy.
Keberlangsungan Seba Baduy menjadi penanda bahwa di tengah arus modernisasi dan urbanisasi yang cepat, masih ada masyarakat yang konsisten menjaga kelestarian lingkungan dan nilai-nilai kultural yang diwariskan leluhur.
Baca Juga: Seba Baduy 2025: Simbol Harmoni Alam dan Budaya, 1.769 Warga Baduy Sambangi Pendopo Lebak
Hal ini, menurut Gubernur Banten, patut dijadikan contoh oleh masyarakat luas.
Pemprov Banten juga berkomitmen untuk terus mendukung pelestarian budaya Baduy dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat adat tanpa mengganggu prinsip hidup mereka yang menghindari intervensi berlebihan dari luar.
Tradisi Seba Baduy 2025 ini tidak hanya menjadi sorotan budaya tahunan, tetapi juga panggilan spiritual dan moral tentang pentingnya keselarasan antara manusia dan alam, antara kebijakan dan kearifan lokal. (***)
Artikel Terkait
KPK Sambut Dukungan Presiden Prabowo terhadap RUU Perampasan Aset: Momentum Baru Pemberantasan Korupsi?
Senam Massal Ribuan Guru di Kabupaten Tangerang: Semangat Sehat dan Inovasi di Hari Pendidikan Nasional
Dua Guru Berprestasi di Kabupaten Tangerang Dapat Hadiah Umroh dari Bupati dalam Peringatan HARDIKNAS 2025
Disporabudpar Kabupaten Tangerang Gencarkan Sosialisasi Cabor Dayung dan Tinju di Sekolah: Upaya Regenerasi Atlet Muda
Wali Kota Benyamin Davnie Lepas 393 Jemaah Haji Kloter Pertama Asal Tangsel, Total 1.300 Lebih Siap Berangkat ke Tanah Suci