Jakarta, bidiktangsel.com - Taiwan Excellence menyelenggarakan program amal berskala global bertemakan “Sharing is Caring”, dengan mengundang berbagai institusi sosial, individu, hingga lembaga sosial masyarakat (LSM) untuk berpartisipasi dalam gerakan corporate social responsibility (CSR) ini.
Para calon peserta yang hendak mengikuti program Taiwan Excellence Sharing is Caring ini diminta untuk mengirimkan proposal rencana kegiatan yang berfokus pada isu Kesejahteraan Sosial (Social Welfare) serta Perlindungan Lingkungan (Environmental Protection), dan digabungkan dengan aspek ESG (Environmental, Social, and Corporate Governance). Jangka waktu pengiriman proposal tersebut dimulai sejak 1 September 2021 yang lalu, hingga 31 Oktober 2021 mendatang.
Isu kesejahteraan sosial dan perlindungan lingkungan memang menjadi fokus Taiwan Excellence, karena dua hal tersebut yang sangat dekat dengan kehidupan manusia. Terkait lingkungan, saat ini tugas besar manusia adalah mengembalikan kelestarian lingkungan hidup seperti sedia kala dengan berbagai cara. Jika tidak mampu melakukan hal besar, bisa dimulai dari yang terkecil, seperti membuang sampah pada tempatnya, menanam pohon, dan mengurangi pemakaian plastik.
Contohnya seperti yang dilakukan oleh Nadine Chandrawinata, artis cantik mantan Putri Indonesia 2005 ini sudah memiliki jiwa peduli lingkungan sejak kecil, dengan mengajak orang-orang dewasa di sekitarnya untuk membuang sampah pada tempatnya. Kemudian pada tahun 2015 dia pun membentuk sebuah kampanye ramah lingkungan yang dinamakan Sea Soldier.
Melalui Sea Soldier, berbagai gerakan terkait lingkungan telah dilakukannya, mulai dari aksi bersih-bersih sampah di Taman Suroboyo, aksi bersih-bersih Sungai Ciliwung Jakarta, penanaman bibit mangrove di Teluk Pangpang Banyuwangi, hingga pelepasan tukik (anak penyu) di Taman Nasional Alas Purwo.
Sementara terkait kesejahteraan social, contoh tindakan nyata telah dilakukan oleh Amos Yeninar. Pria yang berprofesi sebagai driver ojek online di Papua ini sempat viral di media sosial karena perjuangannya membangun panti rehabilitasi untuk anak-anak pecandu lem aibon dan narkoba di Papua.
Meski sempat mengalami musibah kebakaran yang menimpa rumah singgah pertamanya, dia terus berjuang membangunnya kembali. Kini dirinya pun telah membangun rumah singgah dengan lebih layak bernama Panti Asuhan Generasi Emas Indonesia. Ada 15 anak terlantar yang tinggal bersamanya di panti asuhan, usia mereka mulai dari 6 hingga 10 tahun. Selain itu, Amos juga menghidupi beberapa anak remaja yang masih enggan untuk tinggal di panti asuhan.