Azis Syamsuddin: Utamakan Pendekatan, Lupakan Cara Konvensional

photo author
dini, Bidik Tangsel
- Minggu, 13 Desember 2020 | 18:31 WIB

JAKARTA - bidiktangsel.com - Trend terorisme di Indonesia sejak tahun 1980-an cenderung fluktuatif. Hampir setiap tahun muncul ancaman dan serangan. Ini jelas menjadi tantangan terbesar Polri, di tengah kritik masyarakat terkait pengabdian dan profesionalime. Wakil Ketua DPR RI Azis Syamsuddin menegaskan, Polri harus terus belajar dari periode kritis serangan terorisme yang terjadi di Poso maupun daerah lainnya sepanjang tahun 2020. Polri juga diminta melakukan pendalaman, bagaimana benih terorisme itu lahir yang mengakibatkan rangkaian tragedi bom bunuh diri pada tahun 2018 di Surabaya. Lalu bom Sarinah Jakarta pada tahun 2016, maupun peristiwa bom Bali, pada 1 Oktober 2005 yang secara jelas menjadi perhatian dunia.

"Ada dominasi kelompok secara konstan. Jati diri mereka terlihat jelas meski disamarkan. Kelompok itu konsisten menembar ancaman hingga aksi yang menimbulkan korban jiwa," ungkap Azis Syamsuddin, Jumat (11/12/2020).

Dari data yang ada, berbagai kelompok yang pernah terlibat dalam serangan terorisme di Indonesia dimulai dari Jemaah Islamiyah (JI), Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Belum lagi Mujahidin Indonesia Timur, hingga Islamic State of Iraqi and Syriah (ISIS) yang cenderung berafiliasi dengan Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Maka, Polri dituntut terus belajar dari benang merah peristiwa yang ada. Potensi kelompok teror terus akan berevolusi. Tumbuh seiring generasi. Metodenya kerap berubah. Dari doktrin anak muda, hingga menargetkan perempuan dan anak-anak sebagai mortir.

"Terbaru, ada skenario masuk ke dunia pendidikan tinggi. Ini yang juga sangat kita khawatirkan," ungkap Wakil Ketua Umum Partai Golkar tersebut.

Ditambahkan Azis Syamsuddin, Polri dihadapkan pada pilihan yang sulit. Dari praktik, kebijakan, dan tantangan dalam memerangi terorisme. Belum lagi, pekerjaan rumah dalam menerapkan karakter persoalan yang ada lalu diimplementasikan pada pendekatan kualitatif, humanis. Pola yang lebih soft dengan menggandeng Pondok Pesanteran dan tokoh alim ulama di daerah begitu penting dikedepankan.

"Tentu kita berharap, Polri mampu mengatasi tantangan ini. Seiring meningkatnya koordinasi dengan instrumen kelembagaan khusus seperti BNPT," jelas Azis.

Menurut Azis, semua upaya tersebut harus dimaknai sebagai kesungguhan dan keseriusan Indonesia dalam memberantas terorisme. Pada posisi ini, DPR sangat berhadap aspek penindakan dan pencegahan jauh lebih dominan daripada aspek pemulihan.Pergeseran dalam pendekatan yang dilakukan hard approach (tindakan keras) ke pendekatan lunak (soft approach) diyakini salah satu cara ideal.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: dini

Tags

Rekomendasi

Terkini

X