Chairul Tanjung Tularkan Semangat Interpreneurship kepada Peserta KUII VII

photo author
Redaksi, Bidik Tangsel
- Jumat, 28 Februari 2020 | 18:23 WIB

“Kalau kita tetap terfragmentasi, maka kita tidak akan bisa memperbaiki umat kita. Tidak ada kata lain kecuali kita bersatu. Tanpa bersatu, jangan harap kita besar,” ujarnya.

“Umat Islam harus membangun usaha dari kita, oleh kita, dan untuk kita. Salah satu cara yang harus dilakukan adalah memperbanyak pengusaha Muslim di Indonesia,” tambahnya.

Saat ini, fasilitas teknologi informasi dapat membantu anak-anak muda Muslim untuk menggeluti dunia enterpreneurship. “Kita ditolong teknologi sehingga hambatan menjadi lebih mudah. Anak-anak muda bisa berdagang dengan medsos tanpa harus punya toko,” tambahnya.

“Entrepreneur adalah orang yang bisa membaca peluang dan kemudian menangkapnya. Sementara kalau hanya bisa membaca peluang saja maka namanya konsultan. Orang Indonesia ahli melihat tetapi tidak ahli menangkap,” kata CT sambil menceritakan pengalamannya berbisnis.

Prinsip entrepenurship adalah membeli masa depan dengan harga sekarang, bukan membeli masa lalu dengan harga sekarang. Orientasi entrepeneur adalah hasil akhir, bukan prosesnya.

Ditambahkan CT, pengusaha juga harus disiplin, detail, dan perfeksionis atau menuntut kesempurnaan dalam menjalankan usahanya.

“Entrepeneurship menciptakan nilai tambah, tidak memburu rente. Contoh, kopi saset di warung harganya 1.000 rupiah. Ketika dia masuk ke warung kopi menjadi 5.000 rupiah. Ketika menjadi kopi gaul menjadi 20.000 rupiah, dan ketika masuk coffe bean menjadi 50.000 rupiah,” tambahnya.

Menurutnya, ulama harus memfasilitasi dan memberikan pendampingan. “Jangan biarkan umat kita kalah dan tersia-sia. Kalau umat kita kalah-menang jumlah tapi kalah ekonomi, maka yang salah adalah ulamanya,” kata CT.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Redaksi

Rekomendasi

Terkini

X