Adakah jalan keluar? Melihat kecenderungan yang terjadi di Amerika dan Eropa, mau tidak mau mereka bergerak mendapatkan pendapatan dari edisi online. The New York Times dan Washington Post misalnya mengandalkan revenue dari subscriber. Lain lagi dengan The Guardian di Inggris. Mereka memiliki inovasi unik, yakni mengandalkan donasi pada pembaca online (hal 35).
Sepanjang 2015-2017, The Guardian mengalami kerugian hingga 57 juta pound sterling. Di tengah masa-masa pailit tersebut, pada 2016 mereka mengkampanyekan donasi satu dolar dari pembaca online. Slogan yang dikampanyekan adalah : Help us deliver the independent journalism the word needs.
Mereka sadar betul bahwa independensi redaksi terancam pemilik modal, sementara pembaca membutuhkan media yang mampu menjaga independensinya. Untuk itu The Guardian mendorong pembacanya ikut terlibat dalam mendanai kerja jurnalistik agar diperoleh hasil kerja jurnalistik dengan kualitas tinggi. Jadi jika kita mengklik berita di The Guardian, dibawahnya muncul tulisan Support the Guardian untuk berdonasi.
Strategi itu mendulang kesuksesan. Hingga awal 2019 sudah tercatat 655 ribu donatur regular. Sedangkan laba usaha pada 2018-2019 mencapai 800 ribu pound sterling. Hasil tersebut menunjukkan bahwa The Guardian telah berhasil mengatasi tantangan kuatnya intenvensi pemodal dan disrupsi.
Melihat begitu dramatisnya kehidupan pers, apakah media masih memiliki masa depan? Untuk menjawabnya, Anda perlu membaca buku ini.
Bersama tulisan @AnifPuntoUtomo