Menguatnya peran pemodal, mulai kian tampak ketika terjadi peralihan kepemilikan. Konglomerat yang tadinya tidak melirik media, sejak euforia pers pasca tumbangnya Orde Baru, ramai-ramai menjadikan media sebagai ajang investasi, baik media cetak, televisi, radio, online. Pada situasi tertentu, media dijadikan tameng, kali tertentu sebagai alat serang. Mereka pun bersaing dengan konglomerat media yang sudah eksis sebelumnya seperti Kompas Grup dan Media Grup.
Erick Tohir misalnya, membeli mayoritas saham Republika. Kemudian Hary Tanoesoedibyo mengakuisisi stasiun televisi RCTI dan TPI, serta membuat Koran Sindo. Grup Bakrie memiliki Anteve dan TVOne berikut media online vivanews.com. Chairul Tanjung setelah berhasil mengendalikan Trans dan Trans7 mengambilalih Detik.com. Tak ketinggalan, Lippo Group membeli Suara Pembaruan, Investor Daily, dan TV Berita Satu. Para pemodal itu ada longgar terhadap redaksi, tapi mayoritas cenderung mengatur.
Kuatnya pemodal, secara perlahan tapi pasti, telah melemahkan posisi wartawan. Newsroom sebagai penjaga gawang independensi, begitu mudah ditembus, bahkan dikooptasi. Berita yang tadinya murni diturunkan atas pertimbangan jurnalistik pun tergadai, terjadilah fenomena ‘menjual berita’ (hal 21).
Lebih mengerikan lagi jika pemilik media adalah aktor politik, yang terjadi adalah keberpihakan tanpa batas terhadap kroni dan kelompoknya. Contoh konkret bagaimana MetroTV dan TVOne menyajkan berita saat Pilpres 2014 dan 2019. Pertimbangan politik telah meminggirkan pertimbangan jurnalistik dalam memberikan informasi kepada pemirsa.
Kondisi tersebut mengingatkan kita untuk membuka buku ‘Tanah Air Bahasa-Seratus Jejak Pers Indonesia’ yang disunting Taufik Rahzen. Buku berisi 100 tokoh pers mulai dari jaman penjajahan sampai era reformasi. Khususnya pada jaman perjuangan, terlihat sekali bagaimana wartawan sebagai pemilik surat kabar terus merawat idealisme untuk melawan penjajah.
Tirto Adhi Surjo yang menerbitkan Medan Priyayi pada 1907 misalnya. Ia menjadikan koran tak hanya mengkritisi pemerintah kolonial dengan memotret realitas kehidupan rakyat dan perilaku sang penjajah, tetapi juga menjadikan koran sebagai alat perjuangan mengurusi rakyat yang berperkara dengan pemerintah.
Kehidupan pers saat ini ibarat sudah jatuh tertimpa tangga. Sudah peran pemodal yang ‘tidak mengerti’ jurnalistik semakin kuat, terkena disrupsi pula. Pukulan beruntun itu semakin menjadikan kehidupan pers, khususnya surat kabar, kehilangan sandaran. Menyandar pada pemodal digerogoti idealismenya, menyandar pada pembaca jumlahnya terus menyusut digerus media online dan medsos.