Kota Tangsel, bidiktangsel.com - Dalam momentum Bulan Sastra dan Bulan Bahasa, budayawan Tangsel, Uten Sutendi, menegaskan pentingnya membangun kebudayaan bukan sekadar melalui kesenian, tetapi melalui pembentukan pola pikir dan cara pandang masyarakat yang berbudaya positif.
Menurut Uten, pembangunan di Tangerang Selatan saat ini sudah berkembang dalam berbagai aspek, infrastruktur, ekonomi, hingga politik, namun masih memerlukan sentuhan nilai-nilai budaya yang menumbuhkan kebaikan, kepedulian, dan keindahan dalam kehidupan sosial.
Baca Juga: Gema Sastra Warnai Bulan Bahasa di Setu: Budayawan dan Sastrawan Tangsel Gaungkan Semangat Literasi
“Pengembangan budaya itu bukan hanya soal kesenian. Yang utama adalah membangun mindset masyarakat agar lebih positif. Dalam setiap kebijakan pemerintah harus ada ruh budaya, nilai-nilai kebenaran, kecintaan, dan kepedulian terhadap sesama,” ujar Uten dalam kegiatan tersebut, Sabtu (1/11-2025) di Kelurahan Setu.
Uten juga menyinggung wacana pembentukan Dewan Kebudayaan Tangsel yang diharapkan menjadi wadah penguyuban bagi para seniman dan budayawan lokal.
Dewan ini diharapkan menjadi forum diskusi untuk memberikan masukan terhadap kebijakan pemerintah agar memiliki dimensi budaya yang kuat.
Baca Juga: IndexPolitica Bantah Tuduhan Hasan Hasbi Soal Survei Purbaya Yudhi Sadewa
Ia menilai, selama ini pelibatan pelaku budaya dalam proses perencanaan pembangunan daerah, seperti dalam musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang), masih minim.
“Sering kali budayawan tidak dilibatkan dalam musrenbang. Padahal pembangunan tanpa budaya itu pincang,” ujarnya.
Sementara itu, Kasie Kesenian dan Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Tangsel, Sugeng, S.Pd, menjelaskan bahwa pihaknya tengah berupaya memperkuat koordinasi antarinstansi dan memperbarui data sanggar serta padepokan budaya di seluruh wilayah Tangsel.
Baca Juga: 31 Perempuan Korban KDRT di Tangsel Pilih Gugat Cerai, Bukan Lapor Polisi
“Kami baru melakukan pendataan ulang sanggar dan padepokan di bulan September lalu. Data sebelumnya masih terbatas, jadi kami perbarui agar lebih akurat,” jelas Sugeng kepada awak media.
Terkait pengelolaan Gedung Amfiteater Budaya di Jaletreng Serpong, Sugeng menegaskan bahwa kewenangan pengelolaannya bukan di bawah Dindikbud, melainkan berada di dinas lain.
“Amfiteater Budaya memang bukan di kami pengelolanya. Kalau tidak salah, itu di bawah Dinas PU atau pariwisata,” ujarnya.