Baca Juga: Poros Utama Kongres Dipercepat PWI: Fitnah, Islah, dan Pertarungan Hendry CH Bangun vs Akhmad Munir
Skema ini diharapkan bisa menciptakan fleksibilitas dalam penyerapan beras, menjaga stok secara berkelanjutan, serta menekan gejolak harga yang rawan menghantam konsumen.
“Kebijakan investasi ini diharapkan memperkuat ketahanan pangan nasional, menjaga stabilitas harga beras, serta memastikan APBN lebih produktif dan berdampak luas bagi kesejahteraan masyarakat,” lanjut PCO RI.
Anggaran Ketahanan Pangan Nasional Capai Rp164,4 Triliun
Dana jumbo untuk Bulog merupakan bagian dari total Rp164,4 triliun anggaran ketahanan pangan dalam RAPBN 2026.
Baca Juga: Janji Pejabat Tinggal Janji, Warga Kampung Kandang Sapi Pilih Swadaya Perbaiki Jalan Rusak
Selain alokasi untuk Bulog, anggaran itu juga mencakup:
- Pembangunan lumbung pangan dan cadangan pangan: Rp53,3 triliun
- Subsidi pupuk 9,62 juta ton: Rp46,9 triliun
Besarnya alokasi ini menegaskan ketahanan pangan sebagai isu strategis, mengingat krisis pangan global berpotensi menekan Indonesia jika tidak diantisipasi sejak dini.
Efisiensi dan Tata Kelola Jadi Kunci
Meski dana yang digelontorkan terbilang fantastis, pemerintah menekankan agar Bulog tetap disiplin dalam tata kelola anggaran.
Transparansi, efektivitas, dan efisiensi menjadi syarat mutlak agar setiap rupiah benar-benar berdampak pada petani maupun masyarakat.
Bila target penyerapan 3 juta ton beras tercapai, langkah ini diyakini akan memperkuat kemandirian pangan nasional sekaligus menekan ketergantungan impor di tengah ketidakpastian global.
(***)