nasional

Paus Fransiskus Prioritaskan Kaum Marginal dalam Kunjungan ke Indonesia

Rabu, 4 September 2024 | 13:35 WIB
Paus Fransiskus menyapa sekitar 40 orang dari kelompok-kelompok yang sering kali diabaikan.

Jakarta, bidiktangsel.com - Pada Selasa siang, 3 September 2024, Paus Fransiskus tiba di Indonesia dan langsung menunjukkan kepeduliannya terhadap kaum marginal.

Setibanya di Jakarta, Sri Paus disambut oleh anak-anak yatim, orang sakit, dan para pengungsi di kompleks Kedutaan Besar Vatikan (Nunciatura) di Jakarta Pusat.

Baca Juga: Oknum Guru SMAN 2 Tangsel Diduga Lempar Gunting ke Siswi, Kasus Berujung ke Ranah Hukum

Dalam pertemuan tersebut, Paus Fransiskus menyapa sekitar 40 orang dari kelompok-kelompok yang sering kali diabaikan.

Meskipun acara tersebut berlangsung singkat, suasana hangat sangat terasa, menggambarkan perhatian mendalam Paus terhadap mereka yang kerap tak terdengar suaranya.

Pertemuan ini menjadi agenda pertama Sri Paus di Indonesia, menegaskan kembali komitmennya untuk selalu berada di sisi mereka yang terpinggirkan.

Baca Juga: Oknum Guru SMAN 2 Tangsel Dilaporkan ke Polisi Usai Insiden Lempar Gunting Saat Mengajar

“Paus selalu memberikan perhatian khusus kepada mereka yang miskin, telantar, pengungsi, dan korban perdagangan manusia,” ujar Rm Martinus Dam Febrianto SJ, Direktur Jesuit Refugee Service (JRS) Indonesia, dalam rilis yang diterima pada Rabu, 4 September 2024.

Kepedulian Paus Fransiskus terhadap kaum marginal telah tercermin dalam dokumen *Evangelii Gaudium* yang diterbitkan pada tahun 2013, segera setelah beliau diangkat sebagai pemimpin umat Katolik.

Dalam dokumen tersebut, Paus menyerukan perlunya perhatian lebih terhadap berbagai bentuk kemiskinan dan kerentanan.

Baca Juga: Apindo Tangsel Absen di Pelantikan Dewan Pengupahan: Sampaikan Protes Keras

Paus Fransiskus juga menekankan pentingnya mengenali kehadiran Kristus dalam diri mereka yang menderita, meskipun upaya ini mungkin tidak memberikan manfaat langsung.

Sri Paus secara khusus menyebut tunawisma, pecandu narkoba, pengungsi, penduduk asli, dan para migran sebagai kelompok yang membutuhkan perhatian khusus.

“Saya menyerukan kepada setiap negara untuk memiliki keterbukaan yang murah hati dalam menciptakan bentuk-bentuk sintesis budaya baru, tanpa takut kehilangan identitas lokal,” tegas Paus Fransiskus.

Halaman:

Tags

Terkini