Oleh: Dr. Alfa Dera, S.H., M.H.M.M / (Penulis adalah Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Pamulang)
Di tengah belantara pendidikan tinggi nasional yang kerap terjebak dalam menara gading elitisme, Universitas Pamulang (Unpam) hadir laksana sebuah oase. Ia bukan sekadar institusi tempat mentransfer ilmu, melainkan sebuah manifestasi nyata dari cinta kasih dan keberpihakan sosial. Di balik gedung-gedung megah yang menjulang di Viktor maupun Witana Harja, terdapat satu ruh yang tak boleh mati: spirit pengabdian Almarhum Dr. (H.C.) H. Darsono.
Beliau, sang visioner yang kita cintai, tidak mewariskan sekadar aset fisik berupa dinding beton atau lahan luas. Warisan teragung beliau adalah sebuah "resep kasih sayang" dalam pengelolaan pendidikan. Sebuah filosofi ekonomi-pendidikan yang menjungkirbalikkan logika kapitalisme: subsidi silang.
Baca Juga: Wagub Banten dan Ketum Forum Pimred Multimedia Potong Tumpeng HPN 2026 di Tangsel
Secara akademis, kita bisa membedah model manajemen Yayasan Sasmita Jaya sebagai sebuah anomali positif. Di saat mayoritas perguruan tinggi menjadikan mahasiswa sebagai "sumber pendapatan utama" (revenue stream), Almarhum H. Darsono justru mengajarkan bahwa universitas harus hidup dari kreativitas usaha, bukan dari memeras keringat mahasiswa.
Unit-unit usaha yang dibangun Yayasan—mulai dari industri air minum, manufaktur, hingga sektor riil lainnya—adalah tulang punggung yang menopang biaya operasional kampus. Keuntungan usaha disuntikkan kembali untuk menghadirkan fasilitas lift, eskalator, dan ruang kelas berpendingin udara yang setara dengan kampus mahal, namun dengan biaya yang sangat terjangkau bagi kaum papa. Ini adalah bentuk social entrepreneurship (kewirausahaan sosial) tingkat tinggi yang dijalankan dengan hati.
Baca Juga: Dewan Pers: Aduan Sengketa Jurnalistik Naik Tajam, Literasi Media Harus Diperkuat
Hari ini, estafet kepemimpinan berada di pundak para penerus di Yayasan dan Rektorat. Sebagai anak-anak ideologis Almarhum, kita—para alumni—memiliki tanggung jawab moral untuk turut menjaga kemurnian "resep" ini.
Kekhawatiran terbesar dalam dunia pendidikan modern adalah terjebak dalam arus komersialisasi terselubung atas nama "peningkatan mutu".
Fenomena menjamurnya kewajiban seminar berbayar, uji kompetensi berbiaya tinggi, hingga sertifikasi yang membebani mahasiswa secara finansial, adalah gelombang yang harus kita waspadai. Jika logika transaksional semacam ini sampai merembes masuk dan menjadi budaya di Unpam, maka sesungguhnya kita sedang mengkhianati air mata dan keringat perjuangan Ayahanda Darsono.
Peningkatan kualitas akademik dan kompetensi mahasiswa adalah sebuah conditio sine qua non (syarat mutlak), namun jalan menuju ke sana tidak boleh ditempuh dengan cara yang mencederai filosofi kerakyatan kampus ini.
Baca Juga: Bahasa Jurnalistik Harus Hemat dan Jelas, Pelatihan Literasi Media 2026 Digelar di Tangsel
Di era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0, parameter kompetensi tidak lagi diukur dari selembar kertas sertifikat seminar berbayar, melainkan dari jejak digital, karya nyata, dan skill yang aplikatif. Kita memiliki peluang emas untuk melakukan efisiensi tanpa mengorbankan kualitas.
Pertama, optimalisasi teknologi. Seminar dan pelatihan kompetensi dapat dilakukan melalui webinar atau ruang Zoom yang menihilkan biaya sewa gedung dan logistik fisik. Pendidikan berkualitas bisa diakses dari rumah, gratis, dan inklusif.
Kedua, pemberdayaan alumni. Sebagai Ketua Ikatan Alumni, saya melihat ribuan lulusan Unpam kini telah menjadi "orang" di berbagai sektor—jaksa, hakim, pengusaha, hingga eksekutif perusahaan. Kami siap mewakafkan ilmu dan waktu kami. Alumni siap menjadi mentor, pelatih, dan narasumber bagi adik-adik mahasiswa tanpa memungut bayaran. Inilah kekuatan jejaring persaudaraan kita.
Artikel Terkait
BPBD Ceritakan Proses Evakuasi Pendaki Bukit Mongkrang yang Ditemukan Meninggal Dunia di Area Sungai Mitis
Nilai Gen Z Kalah Pintar dari Milenial, Ahli Saraf Soroti Pudarnya Minat Anak-anak Begadang Semalaman untuk Lulus Ujian
Dugaan Proyek Tak Sesuai Volume, Inlet Tandon Ciater Disorot DPRD Tangsel
Residu Pencemaran Sungai, Pilar Saga: Fokus Pulihkan Ekologi dan Kesehatan Warga
Bobon Santoso Patok Harga Selangit dalam Penjualan Akun YouTube, Deddy Corbuzier Justru Soroti Angkanya Terlalu Rendah