Purbaya mengungkapkan data valid yang lolos KPR subsidi setelah dihalangi SLIK OJK ternyata sangat minim.
“Saya menyimpulkan, dari 110.000 itu, paling yang bisa kami masukkan hanya 100 orang,” tegasnya.
“Jadi, clear-nya nama dari SLIK sepertinya tidak akan memecahkan masalah permintaan perumahan.”
Menteri Purbaya secara tegas menduga telah terjadi salah perhitungan fatal yang diciptakan untuk mengalihkan perhatian.
Ia menuduh BP Tapera dan pengembang bersekongkol menjadikan SLIK sebagai satu-satunya biang keladi kegagalan, sementara masalah sesungguhnya jauh lebih gelap.
Kini, fokus Menkeu Purbaya beralih 180 derajat.
Ia memerintahkan penyelidikan mendalam untuk menemukan biang kerok sesungguhnya yang menahan laju sektor perumahan.
Data BTN menunjukkan bahwa masalah KPR dan konstruksi menyentuh akar yang jauh lebih dalam, bukan sekadar rapor merah di SLIK OJK.
Menkeu Purbaya memberi ultimatum keras:
“Saya butuh sisa Oktober, November, Desember agar banyak pembeli rumah baru, pembangunan cepat!” serunya.
“Saya perlu ekonomi tumbuh lebih cepat dibandingkan kondisi sekarang!”
Baca Juga: Jalan Yang Dulu Rusak dan Berlubang Telah Berubah Menjadi Mulus dan Nyaman
Purbaya mendesak Tapera dan pengembang untuk menyisir ulang potensi permintaan rumah.
Artikel Terkait
GP Ansor Tangsel Gelar Halaqoh Ulama Muda: Teguhkan Peran Santri dalam Pemberdayaan Umat dan Pelestarian Lingkungan
Calon Ketua Kadin Tangsel dan Pengusaha Muda Bahas Kolaborasi serta Optimisme Dorong APBD hingga Rp10 Triliun
Satpol PP Tangsel Razia Miras dan Karaoke di Ciputat–Pamulang: 478 Botol dan 16 Kaleng Disita, Pegawai Karaoke Ikut Terjaring
Satpol PP Tangsel Tindak Tegas Dua Kafe Tak Berizin di Taman Kota 2, Pelanggar Dijadwalkan Sidang di PN Tangerang
Dari Nyaris Roboh Jadi Layak Huni, Warga Rasakan Manfaat Program Bedah Rumah Tangsel