Kebohongan dan Tantangan Integritas dalam Organisasi

photo author
Radi Iswan, Bidik Tangsel
- Sabtu, 5 Oktober 2024 | 21:23 WIB
Hendri CH Bangun.
Hendri CH Bangun.

Oleh: Hendry Ch Bangun

Apakah kesalehan beragama selalu sejalan dengan kesalehan sosial? Pertanyaan ini sering muncul di benak saya, meskipun realitanya, tidak jarang kedua hal tersebut hanya menjadi angan-angan.

Pengalaman bergaul dan berorganisasi mengajarkan bahwa orang yang tampaknya taat beragama—bahkan telah menunaikan ibadah haji—tidak selalu hidup sesuai tuntunan moral agama.

Ada orang yang kaya, tetapi justru memandang rendah mereka yang kurang mampu, lupa bahwa kekayaan bisa lenyap seketika.

Hidup adalah perjalanan singkat, dan segala kemegahan duniawi akan hilang saat ajal menjemput. Ini mengingatkan kita akan pentingnya introspeksi diri, terutama bagi mereka yang berusia lanjut.

Sebelum terlambat, perlu mencari maaf dari orang-orang yang pernah disakiti, agar tidak menjadi orang yang merugi di akhirat. Amal sebanyak apapun tidak akan berarti jika hidup dihabiskan dengan menganiaya, memfitnah, dan merendahkan orang lain.

Namun, kenyataan pahit menunjukkan bahwa masih ada individu yang tidak mencerminkan perilaku yang sesuai dengan atribut religius yang mereka miliki.

Baca Juga: Doktor Ninik Ketua Dewan Pers Nan Sok Kuasa Usir dan Gembok Kantor PWI (3-habis)

Meskipun pernah menangis di depan Kabah, rasa keagungan Tuhan seolah dilupakan ketika kembali ke kehidupan sehari-hari. Sikap riya—pamer kebaikan hanya untuk mendapatkan pujian dari manusia—menjadi fenomena yang kerap terjadi.

Fitnah menjadi salah satu perbuatan yang paling berbahaya, bahkan lebih kejam dari pembunuhan. Dalam profesi jurnalistik, integritas sangat dijunjung tinggi.

Seorang wartawan dituntut untuk selalu memverifikasi informasi, melakukan cek dan ricek sebelum memberikan label atau tuduhan kepada seseorang. Sayangnya, di tengah konflik yang melanda organisasi PWI saat ini, fitnah seolah menjadi senjata bagi sebagian pihak.

Bagaimana bisa seorang wartawan senior yang seharusnya paham kode etik jurnalistik, justru terjebak dalam kebohongan?

Sebuah contoh nyata terjadi dalam rapat pleno PWI baru-baru ini, di mana pertemuan yang hanya dihadiri oleh segelintir orang dianggap sah, padahal tidak memenuhi kuorum.

Keputusan yang diambil dalam rapat tersebut—seperti pengangkatan Zulmansyah sebagai Plt Ketua Umum—jelas tidak sah, namun kebohongan ini terus didengungkan seolah-olah benar.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Radi Iswan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X