Baca Juga: Target Pemulihan BBM Bali Belum Merata, Antrean SPBU Masih Terjadi
Berdasarkan keterangan perwakilan Grab-OVO dalam kunjungan tersebut, program ini telah menjangkau sekitar 5.000 siswa, melibatkan sekitar 40 merchant di sekitar sekolah, serta dilaksanakan di 12 kabupaten/kota.
“Ini adalah bagian dari komitmen Grab-OVO bersama Yayasan Inklusi Pelita Bangsa untuk membantu ikut serta dalam program MBG. Kami menggunakan dana CSR untuk memberikan MBG kepada adik-adik yang berkebutuhan khusus,” ujar perwakilan Grab-OVO.
Perusahaan berharap keterlibatan sektor swasta dapat terus berkembang sehingga semakin banyak peserta didik yang memperoleh manfaat dari program tersebut.
Sistem Digital untuk Pemesanan hingga Pelaporan
Selain meninjau penyajian makanan, Angga menyoroti penggunaan teknologi digital dalam operasional program. Berdasarkan penjelasan yang diterimanya, sekolah dapat menggunakan aplikasi yang disediakan Grab untuk memesan menu hingga satu minggu ke depan.
Baca Juga: KM Feronia Tenggelam di Labuan Bajo, Nakhoda Ungkap Detik-Detik Selamatkan 29 Orang
Proses distribusi turut melibatkan mitra pengemudi Grab, sementara pelaporan disediakan untuk menyampaikan apabila terdapat kekurangan pada menu yang diterima.
Angga menilai sistem tersebut dapat menjadi salah satu contoh praktik yang bisa dipelajari untuk memperkuat aspek pemantauan dan penyediaan makanan dalam pelaksanaan MBG.
“Tadi kita lihat prosesnya bahwa semuanya full digital, dari mulai proses pemesanan, sekolah menggunakan aplikasi yang disiapkan oleh Grab untuk memesan menu seminggu ke depan. Kemudian, proses pengirimannya juga melibatkan mitra-mitra dari Grab sendiri, sampai nanti proses pelaporan apabila ada kekurangan dalam menu,” ungkapnya.
Dalam kesempatan itu, Angga juga menyampaikan kemungkinan mempelajari teknologi yang digunakan Grab-OVO untuk mendukung sistem pemantauan dan penyediaan makanan pada Badan Gizi Nasional (BGN).
Baca Juga: DJP Gandeng 38 Administrasi Pajak Dunia, Kepastian Usaha di Era Digital Jadi Sorotan
Menurutnya, pengalaman program yang telah menjangkau ribuan siswa dapat menjadi bahan evaluasi untuk mengidentifikasi praktik baik yang berpotensi diterapkan lebih luas.
Standar Gizi dan Higienitas Tetap Menjadi Perhatian
Dalam sesi tanya jawab, muncul pertanyaan mengenai standar penyajian makanan bagi siswa berkebutuhan khusus, termasuk kemungkinan keterlibatan ahli gizi khusus.