Ciputat, bidiktangsel. com – Audiensi dan silaturahmi jajaran Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kota Tangerang Selatan bersama Wakil Wali Kota Tangerang Selatan Pilar Saga Ichsan berlangsung di Gedung 1 lantai 1 Puspemkot Tangsel, Selasa (26/5/2026).
Pertemuan tersebut membahas penguatan ekosistem usaha mikro, pengembangan produk lokal hingga program digitalisasi UMKM di Kota Tangsel.
Dalam audiensi tersebut, Wakil Ketua Bidang UMKM KADIN Tangsel, Mizz Farha Diba memaparkan sejumlah program strategis yang tengah dijalankan pihaknya, salah satunya pengembangan “Kampung Digital” sebagai pusat promosi dan distribusi produk UMKM lokal.
Baca Juga: Audiensi Kadin Tangsel dengan Pilar Saga, Dorong Sinergi Pengusaha dan Pemkot
Menurut Farha, program Kampung Digital telah mulai berjalan sejak dua bulan terakhir dan saat ini telah menggandeng berbagai pelaku usaha serta institusi pendidikan di Tangerang Selatan.
“Program Kampung Digital ini fokus pada penjualan produk-produk UMKM yang sudah kami bina dan kerja sama selama satu tahun. Konsepnya distributor, jadi produk UMKM bisa masuk ke lingkungan cafe-cafe dan kampus-kampus di Tangerang Selatan,” ujar Farha dalam penyampaiannya.
Ia menjelaskan, KADIN Tangsel sebelumnya telah mengundang sejumlah kampus di wilayah Tangsel untuk memperkenalkan konsep Kampung Digital dan membuka peluang kolaborasi pemasaran produk lokal.
Tak hanya itu, pihaknya juga mendorong agenda rutin berupa bazar UMKM di area kampus setiap bulan sebagai upaya memperluas pasar pelaku usaha mikro.
Baca Juga: Kadin Tangsel Rebranding, Soroti Rumitnya Perizinan di Hadapan Pilar Saga Ichsan
“Kami ingin setiap bulan ada program besar UMKM di depan kampus. Jadi produk-produk UMKM Tangsel bisa lebih dikenal masyarakat luas,” katanya.
Selain menyasar lingkungan kampus, KADIN Tangsel juga mulai menggandeng pelaku usaha kafe dan kuliner agar menggunakan produk UMKM lokal sebagai bagian dari rantai pasok usaha mereka.
Farha mengaku prihatin karena masih banyak kafe di Tangerang Selatan yang menggunakan produk dari luar daerah, padahal pelaku UMKM lokal dinilai memiliki potensi besar untuk berkembang.
“Kami sangat prihatin melihat banyak kafe yang produknya berasal dari luar. Karena itu kami ingin produk UMKM lokal bisa hadir dan digunakan di kafe-kafe, minimal ada program khusus sebulan sekali,” ungkapnya.
Ia menambahkan, koordinasi dengan pemerintah daerah melalui bidang UMKM juga terus dilakukan. Salah satunya melalui kegiatan bazar UMKM bernuansa Hari Kartini yang sebelumnya telah digelar bersama pemerintah.