Ngopi Sewarung Bersama Budayawan Uten Sutendy
BidikTangsel.com — Obrolan hangat di sebuah warung kopi bersama budayawan Uten Sutendy mengantar pada satu pandangan kritis: polemik soal ijazah yang melanda ruang publik bukan lagi sekadar perkara hukum individual, melainkan gerakan politik yang digarap sistematis.
Di balik riuhnya perdebatan, terselip konstruksi politik jangka panjang yang memanfaatkan isu legal sebagai pintu masuk untuk menggiring opini publik.
Uten memandang bahwa isu dugaan pemalsuan ijazah yang menyeret Presiden Joko Widodo hingga Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka hanyalah “lokomotif” untuk menarik rangkaian agenda politik lainnya.
Baca Juga: Kepercayaan Publik Naik 76 Persen, Sahabat Presisi: Reformasi Polri Terlihat Nyata
“Kalau kita cermati, serangannya bergerak melebar ke berbagai sektor strategis. Dari ijazah, kemudian ditarik ke isu korupsi Whoosh, mangkraknya proyek IKN, hingga sentimen negatif terhadap PIK-2, MBG, dan hilirisasi,” ujarnya dalam diskusi tersebut.
Menurutnya, pola tersebut bukan kebetulan. Ada upaya framing yang dikemas rapi, diperkuat mesin algoritma media sosial, dan digerakkan oleh banyak pion yang tampil seolah paling benar, paling pro rakyat, dan paling paham arah masa depan bangsa.
“Padahal, narasi-narasi itu menunjukkan orkestrasi yang terstruktur. Mereka memanfaatkan titik sensitif bangsa untuk menciptakan ketegangan sosial,” kata Uten.
Baca Juga: Permudah Akses Pencari Kerja, Pemkot Tangsel Mulai Sosialisasikan Portal Digital Anti Nganggur
Lebih jauh, ia menilai bahwa isu ijazah dijadikan alat untuk memantik kecurigaan publik terhadap legitimasi pemimpin hingga kepercayaan pada pembangunan nasional.
“Serangan-serangan itu bukan hanya soal dokumen pendidikan. Ini strategi melemahkan kepercayaan publik terhadap arah pembangunan menuju Indonesia Emas,” tegasnya.
Uten mengingatkan bahwa jika eskalasi isu semacam ini dibiarkan, generasi muda akan terjebak dalam polarisasi baru yang justru melemahkan persatuan.
Baca Juga: Tangsel Raih Penghargaan Kabupaten/Kota Berkinerja Baik dalam Percepatan Penurunan Stunting
“Pada akhirnya, anak-anak negeri akan menyadari bahwa ada aktor-aktor yang memainkan politik adu domba. Fokusnya jelas: menggagalkan perjalanan bangsa menuju masa keemasan,” tuturnya.