Oleh : Junaidi Rusli
Serpong – Polemik proyek pengadaan internet kembali mencuat, kali ini di Kota Tangerang Selatan (Tangsel).
Publik menyoroti pola pemenang tender yang dinilai mirip dengan praktik di Kabupaten Tangerang, meski nama perusahaan yang terlibat berbeda.
Jika di Kabupaten Tangerang pada periode 2021–2024 proyek internet dikuasai PT Platinum Network Indonesia, sejak 2024 giliran PT Aplika Data Nusantara Selatan yang keluar sebagai pemenang tender di Tangsel. Sekilas, dua perusahaan ini tidak memiliki hubungan langsung.
Baca Juga: Isu Surpres Pergantian Kapolri Memanas, DPR dan Istana Tegaskan Belum Ada Surat dari Presiden
Namun penelusuran lebih jauh menunjukkan keduanya berada dalam satu induk usaha, yakni PT Aplika Data Nusantara.
Pola Lama, Wajah Baru
Kecurigaan publik tidak hanya muncul karena hubungan induk-anak perusahaan tersebut.
Lebih jauh, nilai Harga Perkiraan Sendiri (HPS) yang digunakan dalam tender di Tangsel dinilai sangat mirip dengan pola HPS di Kabupaten Tangerang.
Keseragaman nilai tender inilah yang memicu tanda tanya besar: apakah penyusunan HPS benar-benar berdasarkan kebutuhan objektif, atau justru mengikuti pola yang sudah “diatur” sejak awal?
Baca Juga: Ferry Irwandi dan TNI Akhiri Perselisihan dengan Maaf
Praktik ini memperkuat dugaan bahwa sistem e-procurement, yang seharusnya menjadi instrumen transparansi dan efisiensi, justru dipelintir untuk melanggengkan dominasi kelompok usaha tertentu.
Dengan cara ini, persaingan sehat dalam pengadaan barang dan jasa dikhawatirkan hanya menjadi jargon tanpa implementasi nyata.