Oleh: Junaidi Rusli
Artikel - Internet publik kini menjadi kebutuhan dasar masyarakat. Pemerintah daerah berlomba-lomba menyediakan Wi-Fi gratis di ruang publik, sekolah, hingga taman kota.
Namun di Tangerang Selatan (Tangsel), program pengadaan internet yang menelan puluhan miliar rupiah justru meninggalkan ironi.
Alih-alih memberi kemudahan, banyak warga mengeluhkan titik hotspot yang dipasang lemot, bahkan tidak bisa diakses.
Publik wajar bertanya: bagaimana mungkin anggaran sebesar itu tidak menghasilkan kualitas layanan yang layak?
Baca Juga: Ledakan Hebat di Pondok Cabe Ilir Tangsel, Belasan Rumah Rusak dan Warga Luka Bakar
Antara Laporan dan Realita
Jika melihat dokumen resmi, tujuan program ini cukup ideal: menghadirkan akses digital yang merata, mendukung pendidikan, dan memperluas literasi teknologi.
Sayangnya, realita di lapangan menunjukkan jurang yang lebar. Banyak titik Wi-Fi yang hanya terpasang perangkat, tetapi tidak menyuplai koneksi yang memadai.
Ketidaksesuaian antara rencana dan hasil ini menimbulkan dugaan: apakah perangkat yang dipasang sesuai spesifikasi kontrak? Apakah titik pemasangan melalui kajian kebutuhan, atau sekadar formalitas agar proyek tampak berjalan?
Baca Juga: Ahli Waris Nasabah KUR BRI Kecewa, Klaim Pinjaman Tak Dilunasi Meski Debitur Meninggal
Rawan Pemborosan Anggaran
Proyek pengadaan teknologi, apalagi bernilai miliaran rupiah, rentan menjadi lahan pemborosan.
Potensi mark-up harga, kualitas perangkat yang diturunkan, hingga penentuan vendor sarat kolusi bukanlah hal baru di negeri ini. Tidak heran bila hasil akhirnya jauh dari tujuan.
Artikel Terkait
Pelantikan Pengurus BKOMS dan Majelis BKOMS Periode 2025-2026
Revitalisasi Pedestrian Ciater Tangsel, Bakal Lebih Luas, Nyaman, Ramah Difabel dan Estetis
Kejuaraan Nasional Indra Sakti Cup 2025 Resmi Dibuka, Angkat Semangat Sportivitas dan Persaudaraan
Gerakan Pangan Murah, Warga Antusias Buru Sembako Harga Terjangkau
Diskominfo Tangsel Gelar Bimtek Layanan Informasi Publik