Mafia Migas Cengkeram Pertamina Sejak 1965: Dari Ibnu Sutowo ke Riza Chalid, Negeri Ini Masih Tak Berdaya

photo author
Radi Iswan, Bidik Tangsel
- Senin, 28 Juli 2025 | 18:17 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

Oleh: Junaidi Rusli | Wartawan Senior

Tngerang – Sejak didirikan pada 1965, Pertamina bukan hanya menjadi tumpuan energi nasional, tetapi juga ladang basah kekuasaan yang tak pernah benar-benar steril dari cengkeraman mafia minyak.

Dari zaman Ibnu Sutowo hingga era Riza Chalid, sejarah BUMN energi ini penuh kisah intrik, rente, dan penyalahgunaan wewenang yang terus berlindung di balik legalitas aturan negara.

Ibnu Sutowo, sosok legendaris dan kontroversial, membuka lembaran kelam itu saat menjabat Direktur Utama Pertamina pertama pada era Orde Baru. Di balik suksesnya membangun industri migas nasional, ia juga menciptakan apa yang disebut “negara dalam negara”.

Baca Juga: Kajati Banten Lantik Pejabat Baru, Tekankan Integritas & Penegakan Hukum Bermartabat

Utang luar negeri menggunung dan jaringan bisnis pribadi yang membelit Pertamina kala itu, menjadi awal keruntuhan yang berpuncak pada krisis tahun 1975.

Namun mafia migas tak pernah benar-benar mati. Mereka berubah rupa, menyesuaikan diri dengan iklim demokrasi.

Riza Chalid, nama yang mencuat dalam skandal "Papa Minta Saham", bukanlah pejabat publik, bukan komisaris, tapi disebut-sebut sebagai pengatur arus ekspor-impor minyak Indonesia.

Dalam sistem yang korup, ia hanyalah satu dari sekian wajah mafia yang bergerak senyap namun tajam. Dan ya, mereka eksis karena sistem membiarkannya.

Baca Juga: Jum’at Berkah, BMM Bagikan Ribuan Paket Makanan Untuk Dhuafa

Hukum Tak Lemah, Tapi Dibelit oleh Pemain Cerdik

Tragisnya, kekuasaan para mafia bukan karena lemahnya hukum, tetapi karena kepiawaian mereka memanfaatkan hukum. Mekanisme tender, regulasi ekspor-impor, hingga pengadaan minyak mentah seolah menjadi “payung legal” untuk praktik kotor yang nyaris tak tersentuh.

Minyak subsidi pun kini tak luput dari permainan. Rakyat disuruh antri dengan barcode untuk sekadar mendapat Pertalite, sementara di belakang layar, mafia migas mengatur harga dengan dalih fluktuasi pasar dunia. Minyak oplosan pun marak, dijual dengan harga tinggi, tanpa kendali yang jelas dari negara.

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Radi Iswan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X