Anggaran 4,5 Triliun Tangsel Belum Mampu Atasi Kesenjangan Sosial.

photo author
Radi Iswan, Bidik Tangsel
- Kamis, 9 Mei 2024 | 19:09 WIB
Uten Sutendy, seorang budayawan dan seorang motivator, angkat bicara.
Uten Sutendy, seorang budayawan dan seorang motivator, angkat bicara.

Serpong, bidikTangsel.com - Pemerintah Kota Tangerang Selatan baru saja menetapkan APBD tahun 2024 dengan nilai fantastis Rp 4,5 Triliun.

Angka yang besar ini memicu pertanyaan: Apakah Tangsel mampu mengatasi kesenjangan dan kemiskinan dengan anggaran tersebut?

Uten Sutendy, seorang budayawan dan seorang motivator, angkat bicara.

Baca Juga: Satpol PP Jaga 6 Gereja di Kabupaten Tangerang: Peringatan Kenaikan Yesus Kristus Aman dan Nyaman

Beliau melihat fokus Pemkot Tangsel di bawah kepemimpinan Benyamin Davnie dan Pilar Saga Ichsan selama ini masih lebih condong fokus ke infrastruktur, dan kurang memperhatikan pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) seperti pendidikan, kesehatan, dan sosial.

"Dengan anggaran sebesar itu, di kota modern yang punya posisi strategis seperti Tangerang Selatan (Tangsel), seharusnya bisa menjadikannya kota ini jauh lebih maju dan berbeda dengan kota- kota lain di tanah air" ujar Uten.

"Misalnya, bidang pendidikan dan kesehatan bisa lebih maju, tak ada lagi praktek jual beli kursi, atau ada lagi warga yang tak mampu membiayai sekolah anaknya. Terus lingkungan lebih tertata dan hijau, serta tak lagi direpotkan oleh persoalan sampah dan banjir," lanjutnya.

Baca Juga: RSUD Tigaraksa Gelar Donor Darah Sambut Idul Adha

Uten juga menyoroti isu kesenjangan sosial. Dengan dana sebesar 4,2 triliun, harusnya persoalan kesenjangan makin menipis dan semakin berkurang jumlah warga miskin.

Namun, menurut beliau, karena pembangunan belum difokuskan ke persoalan SDM dan sosial, maka persoalan kemiskinan dan kesenjangan sosial masih menjadi masalah di Tangsel.

Angka kemiskinan meningkat, dan konon masih ada persoalan stunting. Itu artunya kebijakan di bidang sosial kurang fokus. Kalau pun ada kebijakan ke arah sana Uten melihat sifatnya masih belum tepat sasaran.

"Masih bersifat karitatif, tidak berkelanjutan (sustainable) dan tidak sistemik. Akibatnya, dana untuk kegiatan sosial termasuk yang dikelola dan dilakukan oleh institusi CSR itu kurang tepat sasaran dan akhirnya belum bisa menyelesaikan masalah," kritik Uten Sutendi.

Baca Juga: PHBS Jadi Kunci Penuntasan Stunting di Kabupaten Tangerang: Kader Posyandu Garda Terdepan

Tangsel, menurut Uten memiliki pusat-pusat ekonomi strategis seperti Bintaro, BSD City, Alam Sutra, dan didukung oleh banyak developer besar,, harusnya bisa tumbuh menjadi kota yang jauh lebih maju dari kota manapun di Indonesia dan dunia dari sisi ekonomi dan kesejahteraan warganya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Radi Iswan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X