banten-raya

Membangun Ketangguhan Anak di Wilayah Rawan Bencana: Workshop Relawan Fasilitator Rumah MARIMBA 3 Jadi Langkah Nyata GMLS dan Mahasiswa UMN

Selasa, 10 Juni 2025 | 12:40 WIB
Foto Bersama Kegiatan Workshop Relawan Fasilitator Rumah MARIMBA (Dok. Rumah MARIMBA)

LEBAK – Kampung Cipurun, sebuah wilayah dengan tingkat kerentanan bencana alam yang tinggi di Kabupaten Lebak, Banten, menjadi saksi upaya kolaboratif dalam membangun generasi muda yang tanggap bencana. 

Dalam rangka pembukaan Rumah MARIMBA 3, Gugus Mitigasi Lebak Selatan (GMLS) menggandeng mahasiswa Humanity Project Batch VI Universitas Multimedia Nusantara (UMN) untuk menggelar Workshop Relawan Fasilitator Rumah MARIMBA pada Selasa, 20 Mei 2025.

Kegiatan yang dilaksanakan di RA Annajah Cipurun ini diikuti oleh 13 relawan dari Desa Tangguh Bencana (DESTANA) Situregen dan dirancang untuk memperkuat kapasitas literasi dan edukasi kebencanaan berbasis anak-anak usia dini.

Baca Juga: Workshop Rumah MARIMBA 3 di Kampung Cipurun: Inovasi Literasi Anak dan Mitigasi Bencana di Daerah Rawan

Literasi sebagai Kunci Ketangguhan Anak di Wilayah Rawan Bencana

Tak hanya sekadar mengajarkan membaca dan menulis, literasi dalam konteks Rumah MARIMBA dimaknai sebagai kemampuan memahami informasi, mengenali risiko, serta membuat keputusan cepat dan tepat saat bencana. Aina Nur Sabrina, Project Manager Rumah MARIMBA 3, menekankan pentingnya peran literasi sejak usia dini.

"Anak-anak yang terbiasa membaca cenderung lebih cepat memahami instruksi keselamatan, mengingat langkah-langkah evakuasi, dan menyerap pengetahuan mitigasi bencana," ungkap Aina.

Sebagai informasi, di Kampung Cipurun terdapat sekitar 73 anak berusia 4 hingga 7 tahun. 

Di RA Annajah sendiri, masih banyak siswa yang belum lancar membaca—hal ini memperlihatkan urgensi program seperti Rumah MARIMBA.

Baca Juga: STASA Gallery Resmi Dibuka di Ciater Serpong: Dedikasi untuk Kemajuan Seni Rupa Indonesia

Simulasi Interaktif dan Pendekatan Afektif: Melatih Empati Relawan

Workshop ini mengusung metode pelatihan yang interaktif dan menyenangkan. Materi disampaikan melalui simulasi permainan edukatif, diskusi tentang kondisi geografis setempat, serta pendekatan afektif guna membangun kelekatan emosional antara relawan dan anak-anak.

“Workshop ini sangat dibutuhkan karena kami diajarkan mengenai sifat anak-anak yang berbeda-beda. Jadi kami tahu bagaimana cara terbaik berinteraksi dengan mereka,” ujar salah satu relawan DESTANA.

Tak hanya membekali keterampilan penyampaian materi, para peserta juga diajak memahami aspek psikologis anak dalam menghadapi situasi darurat—suatu hal yang sangat krusial di daerah rawan gempa dan potensi tsunami seperti Kampung Cipurun.

 

Halaman:

Tags

Terkini