“Alam adalah ibu bagi kami. Kalau alam rusak, hidup manusia juga rusak. Kami berharap semua pihak turut menjaga hutan dan sungai seperti kami menjaganya di Baduy,” ujar Jaro Saidi.
Pesan ini menjadi pengingat di tengah isu kerusakan lingkungan yang kian mengkhawatirkan. Masyarakat Baduy yang menolak penggunaan teknologi modern dan hidup menyatu dengan alam menjadi contoh konkret bagaimana manusia dapat hidup selaras dengan lingkungan.
Kehadiran duta besar dan pejabat negara dalam Seba Baduy tahun ini menjadi bukti bahwa tradisi lokal memiliki daya tarik global.
Dalam konteks diplomasi budaya, Seba Baduy menawarkan narasi yang kuat tentang keberlanjutan, perdamaian, dan nilai-nilai kearifan lokal yang semakin dibutuhkan dalam era modern.
Dengan tetap mempertahankan adat istiadatnya, masyarakat Baduy secara tidak langsung mengajak dunia untuk menengok kembali filosofi hidup sederhana, menjaga keseimbangan, dan hidup dalam harmoni dengan alam.
Seba Baduy bukan hanya milik Kabupaten Lebak atau masyarakat Baduy semata. Ia adalah warisan budaya tak benda Indonesia yang merepresentasikan identitas dan keteguhan dalam menjaga prinsip-prinsip luhur nenek moyang.
Di tengah arus globalisasi, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya melestarikan tradisi dan menjadikan budaya lokal sebagai fondasi pembangunan nasional.
Pemkab Lebak berharap Seba Baduy terus menjadi agenda budaya tahunan yang tidak hanya menguatkan hubungan pemerintah dan masyarakat adat, tetapi juga memperkuat citra Lebak sebagai daerah yang kaya akan budaya dan menjunjung nilai-nilai keberlanjutan. (***)