Bidiktangsel.com – Kamis, 10 April 2025 – Ketegangan dalam perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China kembali memanas.
Terbaru, Pemerintah Australia menolak ajakan China untuk bersatu dalam menghadapi kebijakan tarif resiprokal yang diberlakukan oleh Presiden AS, Donald Trump.
Pada Rabu, 9 April 2025, Trump mengumumkan penundaan penerapan tarif balasan tahap kedua terhadap 75 negara selama 90 hari.
Namun, China tidak termasuk dalam daftar tersebut.
Baca Juga: Penyanyi Legendaris Titiek Puspa Tutup Usia di 87 Tahun, Dunia Musik Indonesia Berduka
Sebaliknya, Negeri Paman Sam justru menaikkan tarif terhadap barang-barang asal China dari 104 persen menjadi 125 persen, sebuah langkah yang memperdalam jurang konflik dagang antara dua raksasa ekonomi dunia tersebut.
Menanggapi kebijakan tersebut, China mengajak Australia sebagai mitra strategis untuk bersatu melawan lonjakan tarif dari AS.
Namun, pada Kamis, 10 April 2025, Wakil Perdana Menteri Australia, Richard Marles, menegaskan bahwa negaranya tidak akan terlibat dalam konflik dagang tersebut.
Baca Juga: Bank Banten Terus Tumbuh Positif, Gubernur Andra Soni Optimistis Jadi BPD Tangguh Didukung Pemda
“Kami tidak akan bergandengan tangan dengan China dalam persaingan global apa pun yang sedang berlangsung,” ujar Richard Marles, seperti dikutip dari Reuters.
Australia justru mengambil langkah berlawanan dengan memperluas strategi diversifikasi perdagangan.
Negara Kanguru tersebut kini fokus mengurangi ketergantungan ekonominya terhadap China—yang selama ini menjadi mitra dagang terbesar—dan membangun hubungan perdagangan yang lebih luas dan berimbang dengan berbagai negara.
Baca Juga: 10 Hari Terakhir Ramadhan, BMM Distribusikan Bantuan Langsung Untuk Warga Palestinal
“Kami mengejar kepentingan nasional Australia dan berkomitmen untuk mendiversifikasi perdagangan kami ke seluruh dunia,” tegas Marles.