Kota Tangerang, kuliner - Kota Tangerang dikenal sebagai salah satu pusat kuliner khas Banten, dan salah satu hidangan yang paling ikonik adalah laksa. Kuliner ini bukan sekadar makanan, melainkan warisan budaya yang lahir dari akulturasi antara budaya Tionghoa dan Melayu yang telah berkembang selama berabad-abad.
Nama "laksa" sendiri berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti “banyak,” merujuk pada penggunaan berbagai macam bumbu dalam hidangan ini.
Mie laksa dibuat dari tepung beras dengan tekstur kenyal, kemudian disajikan dengan kuah kental berbasis santan yang kaya rempah, menyerupai opor.
Menurut catatan sejarah, laksa sudah ada di Tangerang sejak ratusan tahun lalu. Namun, baru pada tahun 1970-an, kuliner ini mulai populer dan dijajakan secara luas oleh pedagang keliling dari kampung ke kampung di Kota Tangerang.
Saat ini, laksa Tangerang memiliki dua varian utama yang mencerminkan perpaduan budaya di wilayah ini:
Baca Juga: DKPP Kabupaten Serang Publikasikan Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan 2024
-
Laksa Nyai, Laksa ini merupakan olahan khas pribumi Tangerang dengan cita rasa kaya rempah. Kuahnya lebih pekat dan gurih, dengan dominasi bumbu-bumbu tradisional khas Nusantara.
-
Laksa Nyonya, Berasal dari komunitas peranakan Tionghoa di Tangerang, Laksa Nyonya memiliki sentuhan rasa yang lebih pedas dan gurih, menyerupai hidangan peranakan lainnya.
Kedua jenis laksa ini memiliki keunikan tersendiri dan dapat ditemukan di berbagai tempat, seperti di sekitar POM Bensin Babakan Cikokol untuk Laksa Nyai, serta Pasar Lama Kota Tangerang untuk Laksa Nyonya.
Sebagai salah satu kuliner khas Kota Tangerang, laksa tidak hanya menjadi favorit warga lokal tetapi juga menjadi daya tarik wisata kuliner.
Baca Juga: Pemkab Serang Kejar Peningkatan Penilaian Standar Pelayanan SPBE 2025
Keunikan dan nilai sejarahnya membuat laksa Tangerang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) pada tahun 2023, memperkuat identitas kuliner kota ini di kancah nasional.
Kini, laksa Tangerang menjadi bagian penting dalam promosi wisata kuliner daerah, menarik wisatawan yang ingin menikmati cita rasa autentik dan merasakan sejarah yang tersaji dalam setiap suapannya. (***)