Kabupaten Lebak, bidiktangsel.com - Pakaian adat Baduy merupakan salah satu kekayaan budaya Indonesia yang perlu dilestarikan. Pakaian adat ini memiliki ciri khas tersendiri, yaitu menggunakan warna hitam dan putih.
Pakaian adat Baduy terdiri dari dua jenis, yaitu pakaian adat Baduy Dalam dan pakaian adat Baduy Luar.
Pakaian adat Baduy Dalam terdiri dari iket, baju kampret, ikat pinggang, dan celana pangsi. Iket adalah penutup kepala yang terbuat dari kain mori. Baju kampret adalah baju tanpa lengan yang terbuat dari kain mori.
Baca Juga: Momen Hari Jadi Kabupaten Lebak Untuk Refleksi dan Persiapan Menuju Masa Depan
Ikat pinggang terbuat dari kain mori, sedangkan celana pangsi terbuat dari kain mori.
Pakaian adat Baduy Luar terdiri dari iket, baju kampret, ikat pinggang, dan celana pangsi. Iket dan baju kampret sama dengan pakaian adat Baduy Dalam. Ikat pinggang terbuat dari kain mori, sedangkan celana pangsi terbuat dari kain mori.
Pakaian adat Baduy memiliki makna yang mendalam. Warna hitam melambangkan kesederhanaan dan kesucian, sedangkan warna putih melambangkan kesucian dan kesucian. Pakaian adat Baduy juga melambangkan keselarasan dengan alam dan lingkungan.
Pakaian adat Baduy merupakan simbol dari kearifan lokal masyarakat Baduy. Masyarakat Baduy dikenal sebagai masyarakat yang sederhana, rukun, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan.
Baca Juga: Penjabat Bupati Lebak Buka Pekan Raya Lebak 2023, Dorong UMKM Go Digital
Pakaian adat Baduy menjadi bagian dari identitas masyarakat Baduy dan menjadi daya tarik wisata bagi wisatawan.
Pemerintah Kabupaten Lebak terus berupaya untuk melestarikan pakaian adat Baduy. Pemerintah Kabupaten Lebak mengadakan berbagai kegiatan, seperti pelatihan pembuatan pakaian adat Baduy dan sosialisasi nilai-nilai budaya Baduy. (***)