Baca Juga: Pemkot Tangsel dan OJK Banten Perkuat Edukasi Keuangan Keluarga
Ia meminta PSSI mulai serius membangun kompetisi pelajar, mahasiswa, hingga pembinaan usia muda secara terstruktur dan berkelanjutan nasional.
“Bangkitkan lagi Liga Santri dan kompetisi pelajar. Jangan hanya mengandalkan EPA atau Piala Soeratin,” katanya.
Menurutnya, Indonesia memiliki banyak talenta muda daerah yang selama ini kalah kesempatan akibat dominasi pemain asing kompetisi domestik nasional.
Ia meminta operator liga mengurangi kuota pemain asing demi membuka ruang bermain lebih luas bagi talenta lokal muda.
“Memperbanyak pemain asing tidak otomatis menaikkan kualitas liga atau ranking AFC secara signifikan,” ujar Syaiful.
Kritik berikutnya mengarah kepada tata kelola kompetisi yang masih jauh dari standar profesional Asia modern saat ini.
Asian Football Confederation memiliki regulasi ketat terkait kesehatan finansial dan profesionalisme klub peserta kompetisi resmi Asia.
Klub wajib bebas tunggakan gaji, memiliki stadion layak, akademi usia muda aktif, hingga legalitas organisasi yang jelas dan profesional.
Ironisnya, beberapa klub Indonesia masih bergantung pada anggaran pemerintah sambil berbicara soal mimpi tampil konsisten di level Asia.
Di tengah gegap gempita naturalisasi, kritik itu menjadi pengingat bahwa sepak bola besar tidak lahir dari jalan pintas semata.
Sebab mimpi menuju Piala Dunia membutuhkan fondasi kuat, bukan sekadar daftar pemain diaspora yang ramai setiap jendela naturalisasi dibuka.
“Sekali lagi sebagai orang yang suka nonton timnas hanya mengingatkan, PSSI berjalanlah pada road map yang benar, jangan hanya mengedepankan naturalisasi,” pungkasnya.***
Artikel Terkait
Dokter Spesialis Anak Ikut Buka Suara, Viral Balita Diajak Konser di Venue Penuh Air
Viral Respons Juri dan MC di LCC 4 Pilar Kalbar Tuai Sorotan, Warganet Penuhi Komentar Akun Resmi MPR
Sang Pewaris Cahaya Banten, Artefak Kejayaan, Perekonomian, dan Kemaritiman Dunia
Hadang dan Tendang Mobil Ambulans Sampai Penyok, Bang Jago Depok yang Viral Kini Tak Berkutik Usai Dibekuk Polisi
Dari Telemarketing hingga Penagihan, Polisi Ungkap Peran Ratusan WNA Sindikat Judol Internasional yang Ditangkap di Jakbar