Sayangnya, pada anak yang mengalami apraksia verbal pesan-pesan itu tak dapat diterima dengan benar. Anak pun menjadi tidak mampu menggerakkan bibir atau lidahnya dengan benar meski ototnya tidak bermasalah. Terkadang, ini juga membuat anak menjadi tak bisa bicara banyak, meski mereka tahu apa yang ingin mereka katakan.
Tanda-tanda yang muncul pada anak dengan gangguan ini, yaitu tak selalu mengucapkan kata-kata dengan cara yang sama setiap waktu, cenderung memberi penekanan pada suku kata ataupun kata yang salah, mengubah suara, dan mengatakan kata-kata yang lebih pendek dengan jelas daripada kata-kata yang panjang.
2. Disartria
Disartria terjadi ketika kerusakan otak menyebabkan lemahnya otot pada wajah, bibir, lidah, tenggorokan, atau dada. Apa pun yang menyebab- kan kerusakan otak bisa mengakibat- kan disartria. Lemahnya otot-otot tersebut membuat anak lebih sulit untuk berbicara.
Gangguan bicara motorik ini bentuknya bisa ringan ataupun berat. Tanda-tanda yang dapat ditunjukkan oleh anak-anak disartria, yaitu bicara cadel atau bergumam yang sulit dimengerti, bicara dengan lambat atau terlalu cepat, ucapan terdengar pelan, tak bisa menggerakkan lidah, bibir, dan rahang dengan baik, serta suara terdengar serak atau bindeng.
3. Stuttering
Stuttering atau gagap mengacu pada gangguan bicara yang memengaruhi aliran bicara seseorang. Anak yang mengalami stuttering dapat mengalami jenis gangguan berikut: