Survey ini, menurut Suci, menghasilkan pandangan bahwasanya semua responden tidak setuju dengan pernyataan bahwa dengan pembelajaran ‘daring’ keterampilan dan kompetensi praktek dalam bidang ortotik prostetik dapat tercapai dengan baik dan efektif. Hal ini disebabkan karena dalam Pendidikan vokasi khususnya ortotik prostetik pembimbingan (bed side teaching) dan praktek yang dilakukan secara langsung (hands on) merupakan kunci keberhasilan pencapaian kompetensi mahasiswa. Selain itu, terdapat juga beberapa kendala yang dirasakan oleh mahasiswa terutama adalah kurangnya waktu untuk mengasah keterampilan praktek di laboratorium dan klinik. Belum lagi kendala teknis (seperti:koneksi internet, listrik, gadgets) dan extra biaya untuk kuota internet yang masih menjadi kendala yang sangat besar dirasakan oleh mahasiswa.
Dilain pihak, kendala yang diasakan pengajar adalah terbatasnya kemampuan literasi digital dan kemampuan merancang media pembelajaran interaktif terkait praktek seperti video demo/simulasi. Suci juga mengungkapkan pentingnya menjaga dan memperkuat kolaborasi. "Selain kolaborasi dengan pihak di Indonesia dan Asia Tenggara, kolaborasi dengan peneliti Belanda juga sangatlah esensial untuk mewujudkan pengembangan terkait kesinambungan (sustainability) pelayanan ortotik prostetik di masa datang yaitu melibatkan teknologi 3D printing dan metode baru daur ulang," jelasnya.
Dito Alif Pratama, Alumni Officer Nuffic Neso Indonesia, mengungkapkan rasa bahagianya melihat banyak alumni Belanda yang ikut aktif dalam acara ini. Partisipasi aktif alumni Belanda dalam berbagai lintas disiplin ilmu, mulai dari hukum, ekonomi, pendidikan dan Public Heath, menjadi salah satu bukti nyata akan semangat mereka untuk berkontribusi dalam penelitian dan peningkatan mutu pendidikan di Indonesia dan juga secara tidak langsung berkontribusi untuk membantu percepatan pencapaian 17 tujuan pembangun berkelanjutan (SDGs). (Astri)