nasional

Pengakuan Dewan Juri Anugerah Kebudayaan PWI Pusat

Kamis, 6 Februari 2020 | 14:49 WIB

Perkenalan Lebih Baik dengan Daerah

Ninok Leksono secara reflektif melihat bahwa banyak sudah seruan untuk 'menemukan kembali' (reinventing) Indonesia disampaikan, dan slogan tentang kebhinekaan digaungkan. Ternyata salah satu jalan untuk mencapai tujuan di atas adalah melalui perkenalan lebih baik tentang daerah, yang unitnya mewujud dalam kota dan kabupaten.

"Kesempatan untuk mengenal daerah lebih dekat muncul saat kami ditunjuk menjadi juri Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2020, Desember 2019-Januari 2020 kemarin. Membaca 30 proposal yang masuk dari berbagai kota dan kabupaten saja sudah menggerakkan rasa antusiasme dan cinta tanah air. Ketika bertemu dengan 10 walikota dan bupati yang masuk final, pengenalan akan tanah air pun makin bertambah. Pertama lahir apresiasi luar biasa akan berbagai potensi - kekayaan alam dan budaya - yang ada. Berikutnya, apresiasi juga muncul ketika melalui paparan di depan dewan juri walikota dan bupati bisa meyakinkan bahwa melalui tata kelola dan visi pemerintahan yang baik, potensi besar tersebut dapat digali, dikembangkan, dan diusahakan untuk memajukan daerah, membuatnya menjadi kota dan kabupaten yang lebih cerdas, berbudaya, dan meningkat perikehidupan masyarakatnya," tuturnya.

Menurut Ninok, juri terkesan, bahwa seni budaya tradisi sebagian dilestarikan, dan sebagian dimutakhirkan. Walikota dan bupati juga tak segan menerapkan teknologi informasi-komunikasi untuk membawa wilayah yang dipimpinnya lebih modern, dan lebih dari itu, semakin kapabel untuk meraih kesempatan maju, misalnya dengan terfasilitasinya UMKM lokal meluaskan bisnis via online.

" Ringkasnya, resultan semua ihtiar kepala daerah untuk melestarikan dan mengembangkan kekayaan alam dan budaya lokal menjadi pertimbangan utama juri untuk memberikan Anugerah Kebudayaan PWI Pusat. Selebihnya adalah kekaguman dan keterpesonaan juri pada keindahan, kekhasan dan anugerah yang melimpah pada 'lands and people' yang sepatutnya kita hormati dan muliakan," katanya menekankan.

Dicatat dengan Tinta Emas
Menurut Yusuf Susilo Hartono , saat dirinya melihat, mendengar, bercakap-cakap, dan tanya jawab dengan ke-10 bupati/ walikota ini, berseliweran ingatanya pada para tokoh yang sukses dengan cara berfikir "out off the box". Dengan cara berfikir seperti itu, sang tokoh -- meminjam istilah Luc de Brabandere & Alan Iny dalam bukunya "Thinking in New Box" -- membuat kotak baru untuk diisi dengan realitas baru.

"Kadar kotak baru dan realitas baru itu berbeda-beda. Mulai dari yang 'ekstrim positif' sampai yang 'soft'. Meski platformnya sama-sama berbasis pada pelestarian. Dalam arti perawatan, pemanfaatan, pengembangan, perlindungan terhadap keunikan, kekhasan, warisan alam (dari Tuhan) dan warisan budaya (dari nenek moyang), dengan cara-cara kekinian," tuturnya.

Di mata Atal S.Depari, Bupati Walikota yang telah dengan sungguh-sunguh memajukan kebudayaan di daerahnya masing-masing, yang sebagian mendapat penghargaan Anugeah Kebudayaan PWI Pusat -- ini kelak akan dikenang dan dicatat di hati masyarakat setempat. Juga dicatat oleh para wartawan dengan tinta emas. (*)

Halaman:

Tags

Terkini